Pemkot Surabaya Relokasi RPH Pegirian Pasca Idulfitri, Gelombang Penolakan Berlanjut di Hari Ketiga

Pemkot Surabaya menegaskan relokasi ke Osowilangun tetap dilakukan usai Idul Fitri 2026.

14 Jan 2026 - 19:14
Pemkot Surabaya Relokasi RPH Pegirian Pasca Idulfitri, Gelombang Penolakan Berlanjut di Hari Ketiga
Kemacetan panjang terjadi di Jalan Yos Sudarso akibat aksi unjuk rasa jagal dan pedagang daging di depan Gedung DPRD Kota Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP – Pemerintah Kota Surabaya menegaskan tetap akan memindahkan aktivitas pemotongan sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke RPH Osowilangun setelah Hari Raya Idulfitri 2026. Disisi lain, gelombang penolakan dari jagal dan pedagang daging terus berlanjut. 

Pada Rabu (14/1/2026) siang, puluhan massa aksi kembali turun ke jalan dan menggelar demonstrasi di pusat Kota Surabaya. Aksi tersebut menandai hari ketiga gelombang aksi jagal yang merupakan kelanjutan dari protes sebelumnya yang digelar di Gedung DPRD Surabaya.

Suasana relatif lebih terkendali, karena massa menyebar di sejumlah titik, yakni di Balai Kota Surabaya dan di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, yang kemudian bergeser ke Gedung DPRD Kota Surabaya.

Sejak tiba di kawasan Balai Kota, massa melakukan orasi secara bergantian sambil meminta agar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersedia menemui mereka secara langsung. Diketahui pada aksi di hari kedua, Selasa (13/1/2026), massa sudah melakukan aksi didepan Balai Kota Surabaya namun tidak ditemui oleh Wali Kota Eri.

Dalam orasinya, massa kembali menegaskan sikap keras menolak relokasi dan bahkan mengancam akan melakukan mogok kerja jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Ancaman itu memunculkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan daging sapi di Surabaya jika konflik tak segera menemukan titik temu.

"Kami tetap melawan dan tidak ingin dipindahkan, kami siap mogok kerja," teriak salah satu orator yang terdengar dari arah mobil komando.

Aksi hari ketiga ini juga berdampak pada arus lalu lintas di sekitar Balai Kota. Kepadatan terpantau terjadi di Jalan Walikota Mustajab, terutama dari arah Jalan Yos Sudarso. Untuk mengurai kemacetan, petugas melakukan pengalihan arus lalu lintas dari arah barat menuju Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Pemkot Surabaya Rencanakan Relokasi Pasca Idul Fitri

Di tengah tekanan aksi yang terus berlanjut, Pemerintah Kota Surabaya tetap pada sikapnya. Diketahui sebelumnya perwakilan massa aksi sempat dipertemukan dengan Pemkot Surabaya dan pihak Manajemen PT RPH untuk lakukan mediasi pada Senin (12/1/2026) di Balai Kota Surabaya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, M. Fikser, menegaskan bahwa rencana relokasi RPH Pegirian bukan kebijakan mendadak, melainkan program lama yang telah disosialisasikan sejak 2016 dan menjadi bagian dari penataan kawasan wisata religi Ampel.

"Mereka minta untuk tidak dipindah, tapi program ini sudah sejak tahun 2016 dan masuk rencana pembangunan kota," tegas Fikser.

Fikser menjelaskan, meskipun mendapat penolakan, Pemkot Surabaya tetap membuka ruang dialog dan pendekatan kepada para jagal agar relokasi dapat berjalan tanpa merugikan pihak manapun. 

Pemerintah kota, kata dia, telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang di RPH Osowilangun, mulai dari kendaraan pengangkut daging hingga kesiapan tempat pemotongan.

"Kami akan terus melakukan pendekatan dan diskusi dengan para jagal," kata Fikser.

Selain itu, Pemkot juga berencana mengubah jam operasional RPH Osowilangun agar proses pemotongan dan distribusi daging lebih cepat. Jam operasional yang semula dimulai pukul 00.00 WIB akan dimajukan menjadi pukul 22.00 WIB, sehingga pengiriman daging ke Pasar Arimbi dapat dilakukan lebih awal.

Tak hanya soal teknis operasional, pemerintah kota juga menjamin aspek keamanan dan kenyamanan para jagal setelah relokasi. Setiap jagal akan dibekali tanda pengenal dan surat khusus saat membawa alat kerja, serta disediakan loker penyimpanan alat di area RPH Osowilangun.

"Nanti ada keplek atau surat supaya alat kerja yang dibawa bisa diketahui, dan akan disiapkan loker," ujarnya.

Fikser kembali menegaskan bahwa relokasi tetap akan dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri 2026. Namun, ia memastikan sosialisasi dan pendekatan persuasif akan terus dilakukan hingga waktu pemindahan tiba.

"Pemindahan tetap dilakukan setelah Idulfitri 2026," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa yang dipindahkan hanyalah aktivitas pemotongan sapi, sementara Pasar Pegirian yang selama ini dikenal sebagai sentra penjualan daging di Jalan Arimbi tetap beroperasi seperti biasa. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow