Muktamar PBNU ke-35 Digelar Agustus 2026, Lokasi Akan Diputuskan dalam Munas dan Konbes
Lokasi Muktamar PBNU ke-35 yang dijadwalkan pada Agustus 2026 masih menunggu keputusan Munas dan Konbes PBNU. Sejumlah daerah seperti Jawa Timur, NTB, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat masuk dalam daftar calon tuan rumah.
KEDIRI, SJP – Lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang masih belum ditetapkan. Penentuan lokasi akan dibahas dan diputuskan dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) PBNU yang digelar di Kediri pada 20-22 Juni 2026.
Ketua Organizing Committee (OC) Munas dan Konbes PBNU, Saifullah Yusuf, mengungkapkan bahwa sejumlah daerah telah mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Muktamar. Seluruh usulan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan organisasi.
“Ada NTB, DKI Jakarta, Jawa Timur, ada beberapa pondok pesantren di Jawa Timur, kemudian ada Sumatera Barat. Semua itu nanti akan menjadi bahan pengambilan keputusan. Kita tunggu saja, saya tidak berani berandai-andai soal itu. Kita ikuti prosesnya,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ipul, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, seluruh daerah yang mengajukan diri memiliki peluang yang sama untuk ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar. Keputusan akhir nantinya akan diambil melalui mekanisme organisasi berdasarkan hasil pembahasan dalam Munas dan Konbes.
“Kita lihat nanti perkembangannya seperti apa. Yang memutuskan tentu melalui Munas-Konbes atau diputuskan PBNU berdasarkan rekomendasi hasil Munas dan Konbes,” tambahnya.
Gus Ipul menjelaskan, Munas dan Konbes merupakan tahapan awal yang sangat penting menjelang Muktamar. Berbagai materi dan usulan strategis yang akan dibahas dalam Muktamar akan lebih dulu dimatangkan melalui kedua forum tersebut.
“Munas dan Konbes menjadi ruang untuk mempersiapkan berbagai usulan yang nantinya dibawa ke Muktamar. Ada beberapa isu penting dan menarik yang akan didiskusikan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Steering Committee (SC) Munas dan Konbes PBNU, Prof. Muhammad Nuh, menilai agenda tersebut bukan hanya menjadi forum internal organisasi, tetapi juga momentum silaturahmi para ulama dan masyayikh dari berbagai daerah di Indonesia.
“Yang bertemu adalah para masyayikh, para kiai sepuh dengan kiai sepuh, di tempat yang mulia ini. Itu yang sangat berharga dan dirindukan, yakni pertemuan serta silaturahmi para ulama,” ungkap mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut.
Di sisi lain, Gus Ipul memastikan PBNU telah mengundang Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadiri penutupan Munas dan Konbes. Jika pembukaan dan rangkaian utama kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, pada 20-22 Juni 2026, maka penutupan direncanakan digelar di Kabupaten Bangkalan, Madura, pada 23 Juni 2026.
“Sementara penutupan direncanakan di Kabupaten Bangkalan. PBNU juga mengundang secara resmi Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan amanat pada acara penutupan,” ujarnya.
Selain Presiden, PBNU juga akan mengundang sejumlah pejabat pemerintah daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, para pengasuh pondok pesantren, serta tokoh-tokoh masyarakat untuk menghadiri pembukaan Munas dan Konbes. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

