Loket Pantai Pasir Panjang Malang Pindah, Pengelola Bangun Fasilitas dari Nol

Sekarang Pantai Ngliyep dan Pantai Pasir Panjang punya loket sendiri-sendiri. Tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih tiket dan pengelolaan.

16 Jun 2026 - 14:30
Loket Pantai Pasir Panjang Malang Pindah, Pengelola Bangun Fasilitas dari Nol
Pembangunan loket baru Pantai Pasir Panjang mulai dikerjakan sebagai tindak lanjut pemisahan akses masuk wisata dengan Pantai Ngliyep di kawasan JLS Malang Selatan. (Foto : Istimewa)

MALANG, SJP — Penataan kawasan wisata di Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang membawa perubahan baru bagi pengelolaan destinasi Pantai Ngliyep dan Pantai Pasir Panjang. Kedua destinasi yang selama ini berada dalam satu akses masuk kini sepakat menerapkan sistem loket terpisah guna menghindari tumpang-tindih pengelolaan tiket wisata.

Kesepakatan tersebut membuat pengelola Pantai Pasir Panjang harus memindahkan loket pelayanan ke lokasi baru sekaligus membangun kembali sejumlah fasilitas pendukung yang sebelumnya tersedia di lokasi lama.

Pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) sekaligus pengelola Pantai Pasir Panjang, Arifin, mengatakan bahwa pemisahan loket dilakukan sebagai bagian dari penataan kawasan wisata yang telah ditetapkan pemerintah.

“Sekarang Ngliyep dan Pasir Panjang punya loket sendiri-sendiri. Tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih tiket dan pengelolaan,” kata Arifin saat ditemui di kawasan Pantai Pasir Panjang, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut disepakati bersama demi memperjelas sistem pelayanan wisatawan yang berkunjung ke masing-masing destinasi. Pantai Ngliyep berada di bawah pengelolaan Jasa Yasa, sedangkan Pantai Pasir Panjang dikelola oleh KTH setempat.

Meski mendukung kebijakan tersebut, Arifin mengakui relokasi loket menimbulkan sejumlah konsekuensi bagi pengelola. Berbagai fasilitas yang selama ini dibangun secara swadaya di lokasi lama tidak dapat dimanfaatkan kembali setelah perpindahan dilakukan.

“Kami sebelumnya membangun sendiri fasilitas loket, termasuk jaringan listrik. Ketika pindah, sebagian besar tidak bisa dipindahkan dan harus membangun lagi dari awal,” ujarnya.

Selain jaringan listrik, pengelola juga harus merelakan fasilitas saluran air bersih yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Menurut Arifin, pemindahan jaringan air tidak mungkin dilakukan karena membutuhkan pemasangan pipa dengan jarak yang cukup jauh.

“Kalau air harus menarik pipa lebih dari satu kilometer. Jadi praktis harus mencari solusi baru,” katanya.

Untuk mendukung pembangunan fasilitas di lokasi baru, pengelola sebelumnya mendapat informasi akan menerima bantuan dari Bapenda Kabupaten Malang sebesar Rp15 juta. Bantuan tersebut direncanakan untuk membantu pembangunan loket baru sebagai dampak relokasi akses masuk wisata.

Namun, hingga pertengahan Juni 2026, bantuan yang dijanjikan tersebut belum juga diterima oleh pengelola. Kondisi itu membuat proses pembangunan harus dilakukan secara bertahap sambil menunggu kepastian pencairan anggaran.

“Informasinya bantuan Rp15 juta untuk pembangunan loket baru. Sampai sekarang belum turun,” tegas Arifin.

Menurutnya, kebutuhan pembangunan di lokasi baru cukup besar karena hampir seluruh fasilitas harus dibangun kembali. Oleh karena itu, pihaknya berharap dukungan anggaran yang telah dijanjikan dapat segera direalisasikan agar pembangunan berjalan lebih optimal.

“Kami berharap bantuan itu bisa segera direalisasikan. Kalau memungkinkan ditambah menjadi sekitar Rp20 juta tentu akan sangat membantu karena kebutuhan pembangunan cukup banyak,” ungkapnya.

Arifin juga mengungkapkan bahwa pihaknya tidak dilibatkan dalam rapat awal yang membahas relokasi loket wisata. Saat pembahasan pertama dilakukan, yang hadir disebut hanya unsur pemerintah desa, kecamatan, serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.

“Kami sebagai pengelola Pasir Panjang tidak diundang dalam rapat pertama itu,” katanya.

Meski demikian, pengelola menegaskan tetap menghormati keputusan pemerintah mengenai pemisahan loket dan penataan kawasan wisata. Mereka berharap sistem baru tersebut dapat memberikan kepastian pengelolaan bagi masing-masing destinasi sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Malang Selatan.

Dengan diterapkannya sistem loket terpisah, wisatawan yang hendak berkunjung ke Pantai Ngliyep maupun Pantai Pasir Panjang mendatang akan dilayani melalui pintu masuk dan loket masing-masing sesuai dengan pengelola destinasi.

Hingga berita ini ditulis, pihak Bapenda Kabupaten Malang belum memberikan keterangan resmi terkait kepastian pencairan bantuan pembangunan loket Pantai Pasir Panjang yang sebelumnya disebut akan diberikan kepada pengelola. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow