Minyak Goreng Curah Tembus Rp21 Ribu, Pedagang dan UMKM Kota Blitar Mulai Kelimpungan
Harga minyak goreng curah di Kota Blitar mengalami kenaikan dan kini tembus Rp21 ribu per liternya. Kondisi membuat resah kalangan pedagang dan UMKM.
KOTA BLITAR, SJP - Kenaikan harga minyak goreng curah di Kota Blitar, Jawa Timur, kian terasa menekan pedagang hingga pelaku usaha kecil.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak goreng curah melonjak tajam hingga mencapai Rp21.000 per liter, dari sebelumnya hanya berkisar Rp17.000 per liter.
Lonjakan harga ini disebut sudah mulai terjadi sejak bulan Ramadan dan terus merangkak naik hingga saat ini. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat ikut melemah.
Salah seorang pedagang di Pasar Pon Kota Blitar, Khoirul, mengaku kenaikan paling signifikan terjadi pada minyak goreng curah dibandingkan minyak kemasan.
"Mulai naik sejak puasa kemarin, terus bertahap sampai sekarang. Yang paling terasa itu minyak goreng curah, kenaikannya paling tinggi," ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga berdampak langsung pada penjualan. Jika sebelumnya mampu menjual hingga empat drum per hari, kini hanya sekitar dua drum yang terjual.
"Sekarang pembeli banyak yang mengurangi belanja. Dulu bisa jual empat drum sehari, sekarang paling dua drum saja," katanya.
Meski demikian, stok minyak goreng di pasaran masih terbilang aman. Hanya saja, harga yang terus naik membuat konsumen lebih selektif dalam membeli.
"Barangnya ada, tidak langka. Tapi karena mahal, jadi pembeli mikir dua kali," terangnya.
Tak hanya pedagang, pelaku usaha kecil seperti penjual tahu goreng juga ikut merasakan dampak kenaikan ini.
Mamik Supriyatin (46), pedagang tahu goreng di Kelurahan Pakunden, mengaku harus menyesuaikan harga jual agar tetap bisa bertahan.
Dia mengatakan, harga tahu goreng yang sebelumnya Rp3.000 per 10 biji kini naik menjadi Rp3.100 per 10 biji.
"Naiknya memang tidak banyak, cuma Rp100. Tapi itu sudah berat, karena bahan-bahan lain juga ikut naik," ucap dia.
Menurut Mamik, kenaikan harga minyak goreng menjadi beban terbesar dalam biaya produksi. Ia kini harus membeli minyak goreng curah dengan harga sekitar Rp20.000 per liter, padahal sebelumnya masih di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per liter.
"Setiap dua hari saya butuh sekitar 180 kilogram minyak goreng untuk produksi. Jadi kerasa sekali kenaikannya," jelasnya.
Selain minyak goreng, harga plastik kresek untuk kemasan juga mengalami lonjakan signifikan. Jika sebelumnya satu karung plastik kresek dibeli dengan harga sekitar Rp800.000, kini naik menjadi sekitar Rp 1,4 juta.
"Semua naik, tidak cuma minyak. Plastik juga mahal sekarang. Jadi biaya produksi makin besar," tambahnya.
Mamik mengaku, jika kondisi ini terus berlanjut, ia tidak punya pilihan selain kembali menaikkan harga jual.
"Kalau tidak dinaikkan lagi, ya tidak dapat untung. Bisa-bisa malah rugi," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

