Menilik Kembali “Ras Terkuat di Bumi”
Benarkah emak-emak ras terkuat di bumi? Ulasan berikut membahas julukan viral ini dengan semangat pendidikan dan kesadaran perjuangan Kartini.
Apabila kita mengetik di Google dengan kalimat kunci “ras terkuat di bumi”, maka, jawaban teratas Artificial Intelligence (AI) adalah “emak-emak”. Julukan “ras terkuat di bumi” terhadap emak-emak sebagai representasi perempuan atau ibu ini, memang bukan berasal dari ilmu pengetahuan. Namun, sebuah julukan dari warganet (netizen) Indonesia yang merupakan candaan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan, fenomena emak-emak yang berkendara motor sein kanan belok kiri.
Viralitas candaan julukan emak-emak sebagai “ras terkuat di bumi” di media sosial (sejak tahun 2000-an) mampu menggedor gerbang kesadaran diskriminatif gender yang selama ini cenderung memberikan stereotip negatif terhadap perempuan—bahwa perempuan itu lemah, tidak rasional, dan hanya cocok di dapur-sumur-kasur (domestik).
Bagaimana perempuan dikatakan lemah? Sementara, seiap manusia lahir dari rahim yang kokoh. Pun, rasa sakit saat melahirkan seorang bayi. Bagaimana para perempuan dikatakan tidak rasional? Sementara, makhluk yang jagoan menawar harga dan mengatur uang belanja adalah perempuan.
Bagaimana perempuan dikatakan cocoknya hanya di dapur-sumur-kasur (domestik)? Sementara, faktanya, di dunia ini banyak perempauan mencapai puncak pendidikan tertinggi, peraih nobel, dan karir politik sebagai pemimpin sebuah negara.
Saya mengajukan pertanyaan sederhana kepada beberapa perempuan yang kebetulan sudah menjadi seorang Ibu terkait julukan viral emak-emak sebagai “ras terkuat di bumi”.
Beberapa Ibu menyatakan bangga atas julukan tersebut. Meskipun, bermula dari candaan. Dan senang, karena masyarakat luas memberikan pengakuan bahwa perempuan itu kuat dan tangguh.
Saya kutipkan salah satu pernyataan, “Perilaku ibu-ibu sing kadang unik, lucu dan menangan. Melihatnya sebagai bentuk pengakuan bahwa seorang ibu itu pancen kuat dan tangguh. Ibu-ibu bisa dengan banyak peran sekaligus, mulai dari ngurus omah, ngopeni anak, kadang jek disambi kerja. Ora mung kuwat fisik tapi ya kudu kuat mental dan emosional. Jadi, dari alasan tersebut maka selain ibu-ibu diharap maklum”.
Kartini dan Kesadaran Perjuangan
Membaca Kartini tidak akan pernah habis. Sebagaimana membaca perempuan dan membaca manusia. Sebab, membaca Kartini adalah membaca sejarah kesadaran seorang perempuan yang hidup di zaman kolonial di tengah arus deras budaya Jawa feodalisme.
Demikian halnya membaca perempuan, berarti membaca sejarah ketidakberadaban dan ketidakadilan gender yang terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, kemudian munculnya gerakan feminisme di Barat (akhir abad ke-19), dan gerakan Kartini di Indonesia.
Membaca Kartini dan perempuan tidak akan pernah habis dan akan selalu relevan sebagaimana membaca manusia itu sendiri. Tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah selesai selama manusia dibaca oleh manusia itu sendiri.
Premis dasarnya adalah “nasib manusia berada di tangan manusia itu sendiri”. Persis, dalam konteks perempuan, maka, “nasib perempuan berada di tangan perempuan itu sendiri”. Artinya, kemana arah gerak sejarah peradaban manusia tergantung kepada manusia. Demikian juga arah gerak sejarah peradaban perempuan tergantung kepada perempuan itu sendiri.
Kata kunci arah gerak sejarah peradaban manusia adalah kesadaran. Pun sejarah peradaban perempuan adalah sejarah gerak kesadaran dari kaum perempuan.
Demikian, Arnold Toynbee (2007) di bab awal buku Sejarah Umat Manusia meyatakan bahwa setelah seorang manusia terbentuk di dalam rahim dan kemudian lahir ke dunia, bayi ini mungkin akan meninggal sebelum dia menyadari siapa dirinya.
Dari pernyataan Sejarawan Inggris tersebut memunculkan satu pertanyaan reflektif bagi siapapun, bahwa, bisa saja, selama seseorang hidup (tentu termasuk diri kita masing-masing) di dunia ini (mungkin) akan meninggal sebelum seseorang atau kita menyadari siapa dirinya atau siapa diri kita.
Kartini adalah seorang perempuan yang berkesadaran—mengerti secara utuh sebagai manusia dan kemanusiaan. Menakjubkan, karena kesadaran yang dialami Kartini tersebut hadir di tengah kegelapan dan ketidakmengertian tentang manusia dan kemanusiaan.
Cahaya kesadaran Kartini menembus celah tembok kolonial dan kusutnya budaya feodal di Jawa menjadi sebuah gerakan perjuangan. Okky Madasari seorang sastrawan dari Yogyakarta menyebut gerakan perjuangan Kartini adalah sebuah gerakan pemikiran yang mendobrak tradisi penindasan perempuan.
Kesadaran perjuangan Kartini tidak berasal dari kosong. Kasadaran perjuangan Kartini berasal dari kegelisahan tentang manusia dan terhadap kemanusiaan bagi perempuan. Kegelisahan yang teramat sangat tersebut diperkuat dengan pendidikan. Kartini memperkuat diri dengan membaca, belajar, dan melakukan diskusi (termasuk dengan melakukan korespondensi dengan teman-temannya di Belanda)—Kartini menjadi seorang perempuan terdidik yang tajam intelektualitas dan kritis.
“Para perempuan Jawa harus terdidik. Terbebas dari kebodohan dan pembodohan”, demikian kira-kira sumpah gerakan perjuangan Kartini. Maka, jalan perjuangan yang ditempuh Kartini untuk pembebasan para perempuan Jawa adalah melalui pendidikan.
Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah metode pembebasan bagi perempuan Jawa dari ketertindasan dan ketidakadilan yang ditandai dengan mendirikan sekolah bagi perempuan Jawa.
Terlepas dari konteks pembebasan perempuan Jawa yang dilakukan oleh Kartini. Pendidikan, memang, adalah jalan pembebasan bagi siapapun baik perempuan maupun laki-laki.
Maka, menurut saya, ke-celaka-an bagi sebuah keluarga yang tidak mengarusutamakan pendidikan. Dan, kedukaan nasional apabila sebuah rezim pemerintahan di sebuah negara menganggap tidak penting pendidikan bagi warga negaranya.
Lalu, apa yang perlu ditilik-i dari julukan viral bahwa emak-emak adalah “ras terkuat di bumi”?
Emak-emak perlu menilik, bagaimana tingkat keterdidikan dan apakah pedidikan dijadikan metode perjuangan?
Saya membayangkan, apabila “ras terkuat di bumi” yang bernama emak-emak ini adalah emak-emak yang terdidik dan menjadikan pendidikan sebagai metode perjuangan.
Maka, arah gerak sejarah peradaban manusia di bumi ini akan terarah dan terselamatkan.
Mengapa? Sebab, sekolah pertama bagi manusia yang baru lahir dari rahim adalah ibu; perempuan. Perkembangan kualitas kepribadian anak (terutama) berada di seperti apa pola asuh dan pola didik ibu; perempuan.
Dengan demikian, ke mana arah gerak sejarah peradaban sebuah bangsa dan negara bertumpu kepada kompas pendidikan yang dipraktikkan oleh para ibu; perempuan, di negara tersebut.
Kini, kita sudah berada di zaman kesetaraan gender dan keterbukaan terhadap perempuan “mau menjadi apa”.
Apakah fakta sejarah peradaban setara gender dan keterbukaan “mau menjadi "apa” tersebut akan disambut dengan gairah berpendidikan sehingga menjadi perempuan terdidik bagi para perempuan?
Keterbukaan bagi perempauan “mau menjadi apa” apabila saya analogikan dalam dunia pewayangan, seolah perempauan dipersilakan mau menjadi seperti apa dalam tokoh wayang kulit.
Apakah mau menjadi seperti Kunti? Subadra? Drupadi? Srikandi? Sukesi? Gendari? Banowati? Dan lain sebagainya—para perempuan sudah disuguhkan wewayangan (bayangan) sebagai model untuk menjadi apa dan siapa, dengan rasa merdeka.
Penulis: Sunarno (Dosen Psikologi Sosial UIN Syekh Wasil Kediri
What's Your Reaction?

