Merawat Jati Diri Bangsa di Kediri, Saat Lintas Iman dan Tradisi Melebur di Haul Bung Karno ke-56

Peringatan Haul Bung Karno ke-56 di Ndalem Pojok Kediri berlangsung khidmat. Menghadirkan doa lintas agama sebagai simbol perekat jati diri bangsa.

21 Jun 2026 - 10:11
Merawat Jati Diri Bangsa di Kediri, Saat Lintas Iman dan Tradisi Melebur di Haul Bung Karno ke-56
Suasana peringatan Haul Bung Karno ke-56 di Situs Persada Soekarno nDalem Pojok. (Foto: Dokumentasi Paniria)

KEDIRI, SJP – Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Sehat Tentrem, Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Kediri, pada Sabtu malam (20/6/2026). Di tempat bersejarah ini, berbagai elemen berkumpul, menyatukan rasa demi merawat api semangat nasionalisme dalam peringatan Haul Bung Karno ke-56.

Acara doa bersama yang diinisiasi oleh Situs Persada Soekarno Kediri, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI), dan Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia ini sekaligus menjadi puncak dari rangkaian tradisi "Ruwat Agung Soekarno".

Malam itu, sekat-sekat perbedaan melebur. Kehadiran komunitas adat, tokoh pemuda, hingga pemuka lintas iman menjadi simbol nyata dari semboyan "Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan" yang masih terpatri kuat di bumi Kediri.

Dalam orasinya yang menggugah, Ketua Panitia Kus Hartono mengingatkan kembali bahwa Bung Karno bukan sekadar figur dalam buku sejarah.

"Beliau adalah Proklamator Kemerdekaan, peletak dasar negara Pancasila, Bapak Bangsa, sekaligus penyambung lidah rakyat Indonesia. Besarnya jasa beliau sudah sepantasnya kita balas dengan untaian doa terbaik," ujar Kushartono hangat.

Kushartono juga mengajak masyarakat yang belum sempat hadir untuk meluangkan waktu sejenak demi mendoakan Sang Proklamator. Bagi beliau, momentum haul adalah alarm bagi bangsa ini agar tidak melupakan sejarah dan kembali menilik jati diri aslinya.

Apresiasi mendalam turut disampaikan oleh Ketua Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia Suhardono. Selaku penanggung jawab, ia menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada seluruh pihak yang bergotong-royong menyukseskan Ruwat Agung Soekarno.

Nuansa kebangsaan terasa semakin kental saat doa bersama dipanjatkan melalui tradisi Kausaran, dilanjutkan dengan doa lintas agama—sebuah refleksi indah dari semangat merajut perdamaian Nusantara.

Sebagai penutup, acara diakhiri dengan prosesi selamatan, pemotongan tumpeng, dan santap bersama bubur sumsum yang hangat. Di sela-sela jamuan, dialog akrab tercipta. Malam itu menjadi ruang refleksi untuk menguatkan kembali komitmen menjaga NKRI melalui karakter bangsa yang berjati diri. (*)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow