Mengenal Mas'ud, Pria Pencetus Alat Musik Tradisional Selawat di Sampang

Ada kisah menarik di balik penemuan sejumlah alat musik selawat tradisional itu

01 Feb 2025 - 13:37
Mengenal Mas'ud, Pria Pencetus Alat Musik Tradisional Selawat di Sampang
Mas'ud menunjukkan alat musik tradisional selawat di rumahnya, di Dusun Sedeen, Desa Krampon Timur, Kecamatan Torjun, Sampang (Fadil/SJP)

SAMPANG, SJP - Masyarakat Kabupaten Sampang tidak asing dengan lantunan musik selawat yang menggema setiap perayaan bulan Maulid Nabi. Namun hingga kini, belum ada yang tahu siapa pencetus alat musik tradisional itu.

Mas’ud (50), warga Dusun Sedeen, Desa Krampon Timur, Kecamatan Torjun itulah penemu pertama kali alat musik tradisional selawat itu. Hingga kini, alat itu masih lestari dan menjadi inspirasi banyak pemuda desa.

Saat ditemui di kediamannya, ayah dua anak itu tengah memeriksa peralatan musiknya. Alat-alat itu tertata rapi di samping rumahnya. Mulai dari drum, ketipung, jeriken bekas, pentungan dari kayu, dan koper tempat menampung kabel.

Pada tahun 1995, Mas’ud mulai menemukan satu alat musik dari jeriken. Penemuan jeriken sebagai alat musik itu memiliki kisah lucu. Mulanya, Mas’ud biasa mengambil air ke sumur menggunakan jeriken. Sambil menunggu air, dia menyanyi dan menabuh jeriken tersebut.

"Seingat saya itu bulan Safar. Kan banyak lantunan selawat di spiker itu. Jadi tangan saya bergerak menabuh," ucapnya, Sabtu (1/2/2025).

Setelah pertengahan bulan Safar, sekitar tanggal 10, tetangga Mas’ud merayakan Maulid Nabi Muhammad. Tanpa ada yang menyuruh, dia langsung membawa satu jeriken sembari memenuhi undangan. 

Di tengah ramainya undangan dan lantunan selawat dari sound sistem, Mas’ud mencoba sambil menabuh mengikuti irama selawat. Tidak disangka, masyarakat yang mendengar menyukai tabuhan Mas’ud itu.

"Selain enak, masyarakat waktu itu merasa lebih bersemangat jika selawat diiringi dengan musik," ungkap suami dari Siti Zaenab itu.

Seiring berjalannya waktu, Mas’ud terus mengembangkan alat musik tradisional selawat. Dia menambah alat lain untuk melengkapi. Setelah alat musik itu lengkap, dia mulai mengajak anak-anak muda menjadi personelnya.

"Saya mulai mengajari anak-anak muda hingga bisa. Setiap seminggu sekali mencoba. Karena masyarakat sudah mulai banyak yang melirik dan ingin mengundang," terangnya.

Mas’ud mulai menata dan menemukan 8 orang personel dan 8 orang pemuda lagi sebagai cadangan. Kemudian grup yang diberi nama 'Serangan Shalawat' itu mulai menerima panggilan untuk tampil. 

"Tapi saya tidak memberikan tarif atau ongkos. Karena ini selawat. Meskipun tidak dipungkiri, tuan rumah pasti memberi sedekah untuk grup kami," tuturnya.

Mas’ud mengakui, saat ini sudah banyak grup musik selawat. Salah satunya di Desa Dulang, Desa Patarongan, Desa Ragung dan hampir di seluruh wilayah Sampang. Meskipun tidak banyak yang tahu bahwa pencetus alat musik selawat itu dirinya.

Dirinya merasa bangga. Sebab, kelompok anak muda yang suka terhadap majelis selawat, bisa mencegah dari perbuatan negatif. Selain itu, masyarakat yang datang ke acara selawat tidak mengantuk dan lebih bersemangat membaca selawat.

Dengan kerendahan hatinya, Mas’ud telah menularkan banyak generasi pecinta selawat di tanah Trunojoyo ini. Hal itu diharapkan menjadi sebuah amal dan bekal hidupnya sebelum menghadap Sang Maha Kuasa.

Di tengah era globalisasi dan meningkatnya perkembangan teknologi. Dirinya berharap agar generasi muda tetap menjaga dan melestarikan musik tradisional selawat. Tujuannya, agar generasi muda terus cinta kepada nabi Muhammad SAW dan menjaga kerukunan sosial.

"Insyaallah nanti malam kami diundang di malam acara lomba akik," pungkas pria yang biasa dipanggil Ma'ok itu. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow