Menembus Jalan Ekstrem, Seporsi MBG di Pelosok Bondowoso Dibawa Pulang untuk Dimakan Sekeluarga
Distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di pelosok ekstrem Bondowoso menghadapi medan berat, namun tetap berjalan demi siswa. Di balik itu, tersimpan kisah haru anak-anak yang menyisakan lauk daging untuk dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga.
BONDOWOSO, SJP – Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebuah sepeda motor mulai menembus jalur terjal dan berbatu di pelosok Kecamatan Wringin. Di atas kendaraan itu, tersimpan harapan ratusan anak, yakni paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang harus tiba tepat waktu di sekolah mereka.
Perjalanan sejauh 6 hingga 7 kilometer itu bukan sekadar soal jarak. Medan ekstrem membuat waktu tempuh bisa mencapai satu jam. Jalan sempit, tanjakan curam, berbatu, hingga jalur tanah licin menjadi tantangan harian bagi petugas distribusi dari SPPG Wringin II.
Namun, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat mereka. Karena, MBG yang mereka salurkan ke wilayah perbatasan Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih Kecamatan Wringin, bukan hanya menjadi makanan pendamping saja, tapi bak makanan ala restoran yang kehadirannya selalu dinantikan oleh siswa SD Banyuwulu 4 dan SMP terbuka, cabang dari SMPN 2 Pakem.
Tak hanya itu, MBG juga menyasar siswa TK dan PAUD di Dusun Biser, Desa Gubrih Kecamatan Wringin, sebuah lokasi paling jauh, yang baru saja dikunjungi oleh Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid dan Wakil Bupati As’Ad Yahya Syafi’i bersama jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pada Jumat (24/4/2026) kemarin.
Disajikan Berbeda dengan Perkotaan
Tantangan terberat, kata seorang pengantar MBG, terjadi saat musim penghujan. Kondisi jalan yang ekstrem baik meusim penghujan maupun musim kemaru, tidak memungkinkan MBG diantar menggunakan kendaraan roda 4.
“Walaupun dengan medan yang cukup ekstrem, kami tetap berusaha mengantarkan MBG ke siswa menggunakan motor. Karena memang permintaan dari pihak sekolah dan anak-anak di sini sangat membutuhkan,” ujar Abdul Malik, petugas pengantar MBG di SDN Banyuwulu 4.
Di SDN Banyuwulu 4 dan SMP Terbuka, sekitar 120 siswa dan guru menanti kiriman makanan setiap pagi. Bagi sebagian dari mereka, makanan tersebut bukan sekadar tambahan, melainkan asupan penting untuk memulai kegiatan belajar.
Karena keterbatasan akses, proses distribusi dilakukan dengan cara berbeda. Makanan tidak langsung dibawa menggunakan ompreng dari dapur produksi. Sebagai gantinya, makanan dikemas dalam kotak khusus berbahan food grade, lalu setibanya di sekolah dibagikan secara prasmanan.
“Kalau membawa ompreng dari bawah, butuh tiga sampai empat kali pengangkutan. Jadi kami sesuaikan agar lebih efisien dan tetap aman,” jelasnya.
Pengiriman biasanya dimulai sejak pagi buta. Sekitar pukul 06.00 WIB, petugas sudah berangkat agar makanan bisa tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 WIB dalam kondisi layak konsumsi.
Di balik upaya tersebut, masih ada tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Sejumlah wilayah di Bondowoso yang tergolong daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih belum terjangkau secara optimal oleh program MBG.
Keterbatasan Hasilkan Solusi Jangka Panjang
Koordinator SPPG Bondowoso, Mila Afriana Agustina, mengakui keterbatasan itu. Saat dikonfirmasi pada Sabtu (25/4/2026), ia menekankan pentingnya solusi jangka panjang.
“Beberapa titik yang cukup ekstrem memang sudah bisa kami jangkau. Namun masih ada wilayah yang belum memungkinkan untuk distribusi dari SPPG reguler. Karena itu, kami mendorong pembangunan SPPG khusus 3T,” ujarnya.
Menurut Mila, SPPG 3T dirancang untuk wilayah dengan akses sulit dan jumlah penerima manfaat yang relatif sedikit, bahkan di bawah 1.000 orang. Dengan dapur yang lebih dekat ke lokasi sasaran, distribusi diharapkan menjadi lebih efektif dan efisien.
“Pengajuannya melalui pemerintah daerah ke Badan Gizi Nasional. Nantinya akan dibangun SPPG tersendiri di wilayah tersebut agar jarak distribusi tidak terlalu jauh,” jelasnya.
Di tengah segala keterbatasan, dedikasi para petugas menjadi kunci utama keberlanjutan program ini. Satu sepeda motor, satu jalur ekstrem, dan satu tujuan yang sama, yakni memastikan tidak ada anak yang belajar dalam keadaan lapar.
Seporsi Dibagi untuk Makan Sekeluarga
Bagi anak-anak di pelosok Bondowoso, kehadiran MBG bukan sekadar program pemerintah, melainkan wujud nyata kepedulian yang tetap hadir, bahkan harus melewati jalan paling sulit sekalipun.
MBG yang diterima oleh siswa SDN Banyuwulu 4, begitu berharga dibandingkan siswa di wilayah perkotaan. Di daerah pelosok yang dikelilingi pegunungan, MBG dengan menu telur dan daging, menjadi favorit siswa Paud hingga SMP.
Bukannya melahap habis menu MBG, siswa SDN Banyuwulu 4 lebih memilih makan separuh saja. Bukannya tidak suka, kenyang ataupun menolak MBG, mereka lebih memilih membawa sisa daging dan lauk MBG ke rumah, untuk dimakan bersama orang tua mereka.
Hal itu diungkap oleh Surajak (56) seorang penjaga sekolah yang telah mengabdi 21 tahun di SDN Banyuwulu 4. Dirinya mengungkap, MBG di wilayahnya disambut antusias oleh siswa dan sangat membantu orang tua.
“Program MBG, itu luar biasa. Banyak anak-anak di sini yang tidak sempat sarapan karena orang tuanya sejak pagi sudah pergi ke ladang, jadi mereka datang ke sekolah dalam keadaan lapar,” ungkap warga Desa Sumbercanting Wringin ini.
Bahkan, kata Surajak, menu telur, daging ayam dan sapi selalu dimakan separuh dan dibawa pulang oleh siswa. Mereka ingin berbagi agar daging yang mereka dapatkan bisa juga dirasakan oleh orang tua mereka di rumah.
“Di rumahnya kan jarang makan daging dan ikan kayak gitu. Keseringan mereka makan ikan kering (ikan asin) kalau di sini. Karena, kan ke pasar jauh. Di sini, kalau dikasih telur atau daging, anak-anak memilih dibawa pulang untuk dimakan sama ibu,” terang pria yang masih berstatus PPPK paruh waktu ini.
Di sanalah, makna MBG menjadi lebih dari sekadar program pemerintah. Ia menjelma menjadi jembatan kecil yang menghubungkan sekolah dan rumah, antara kebutuhan gizi anak dan kebahagiaan keluarga.
Di pelosok Bondowoso, seporsi makanan bisa berarti dua hal sekaligus, mengenyangkan perut anak di sekolah, dan menghadirkan senyum di meja makan sederhana di rumah. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

