Menari di Atas Kanvas: Goresan Yanto Bedor dalam Jelajah Pulau Madura 3
Lewat lukisan "Penari Bali", Yanto Bedor menari dalam goresan, merayakan keberagaman, menyatukan suku dan budaya, serta mengajak generasi muda mencintai Indonesia lewat seni.
SURABAYA, SJP - Di tengah keramaian Gedung Sentra Batik Klampat, Pamekasan, sehelai kanvas menarik perhatian. Bukan hanya karena warna-warnanya yang tegas, tapi karena sosok di dalamnya, yakni seorang penari Bali, membeku dalam gerak yang elegan, namun penuh makna.
Di depan lukisan itu berdiri Supriyanto, lebih dikenal sebagai Yanto Bedor, seorang perupa yang telah melewati panggung demi panggung pameran dengan semangat yang tak pernah padam.
Menjelajah Lewat Pameran
Yanto Bedor bukanlah nama baru di jagat seni rupa Jawa Timur. Setelah melanglang buana bersama Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) di berbagai ajang dan lokasi, seperti Jatim Expo, Tugu Pahlawan, dan Alun-Alun Surabaya, kini ia membawa karya terbarunya ke Pamekasan dalam rangkaian pameran "Jelajah Pulau Madura 3: Goresan Warna Nusantara di Bumi Madura."
Penari Bali: Bukan Sekadar Lukisan
Salah satu karya yang ia bawa berjudul Penari Bali, bukan sekadar visualisasi budaya. Ia menyebutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman.
"Saya tidak ingin mempertontonkan kesukuan, tetapi memperkenalkan kepada anak cucu kita bahwa kita hidup dalam keanekaragaman budaya dan suku," ucapnya, Rabu (30/4/2025).
Bagi Yanto, seni adalah ruang sosial yang menyatukan. Ia bercerita bagaimana setiap pameran adalah kesempatan untuk menjaga eksistensinya sebagai seniman sekaligus mempererat kebersamaan dengan para perupa lintas daerah, lintas suku, dan lintas bahasa.
"Seni bisa menyatukan kita, bukan hanya untuk berkarya, tapi juga untuk berbagi," katanya.
Berbagi Lewat Goresan
Yanto tak hanya berpameran demi eksistensi. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya suatu kegiatan seperti pameran, seniman dan penikmat seni (aspirator) bisa saling tergugah, dan mungkin juga menghasilkan hubungan jual-beli yang bermanfaat bagi kedua pihak dengan latar saling membutuhkan.
Hasil penjualan seni rupa juga tidak hanya bermanfaat bagi pribadi perupa, Yanto mengungkapkan bahwa dalam kegiatan seni juga bisa untuk bersosialisasi hingga menghimpun dana donasi.
"Karena dalam rejeki kita, pasti ada hak orang lain juga disana. Jadi saya percaya bahwa seni juga bisa menjadi alat untuk menolong sesama, bukan sekadar barang indah yang dikagumi," ucapnya.
Seni untuk Generasi Muda
Tak kalah penting baginya adalah misi edukatif. Pameran seperti ini, menurutnya, bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya di kalangan anak muda.
"Pameran bisa menginspirasi, menumbuhkan rasa menghargai seni budaya, baik lokal maupun nasional," ujarnya dengan harap.
Dalam Goresan, Kita Satu
Dengan karya “Penari Bali”, Yanto Bedor tidak hanya memamerkan lukisan, tetapi menyampaikan pesan: bahwa seni adalah bahasa universal yang merangkul, bukan memisahkan.
Di antara goresan warna Nusantara, ia mengingatkan kita bahwa Indonesia, dengan segala ragamnya, adalah satu tarian besar di atas kanvas kehidupan. Dan selama masih ada yang menari, seni akan tetap hidup. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

