Lindungi Kawasan Sakral dan Konservasi, BBTNBTS Bangun Jalur Lingkar Kaldera Tengger

Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) mulai dilakukan demi menjaga kelestarian alam dan budaya di kawasan Gunung Bromo. Jalur ini diharapkan mampu menata wisata sekaligus melindungi area konservasi dan kawasan sakral.

06 Apr 2026 - 20:46
Lindungi Kawasan Sakral dan Konservasi, BBTNBTS Bangun Jalur Lingkar Kaldera Tengger
Situasi Gunung Bromo. (Foto: Rizky Putra/SJP)

PROBOLINGGO, SJP – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) berencana melakukan penataan kawasan dengan membangun Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT). Jalur ini akan menghubungkan tiga pintu utama, yakni Jemplang di Malang, Cemorolawang di Probolinggo, hingga Wonokitri di Pasuruan, sebagai upaya menata aktivitas wisata sekaligus menjaga kelestarian kawasan.

Rencana pembangunan JLKT tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung di salah satu hotel di kawasan Cemoro Lawang. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari tokoh adat Tengger, pemerintah desa, pemerintah kabupaten dari empat wilayah, hingga pelaku jasa wisata dan pemangku kepentingan lainnya di kawasan Gunung Tengger.

Kepala BBTNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada penataan jalur wisata, tetapi juga bertujuan menjaga nilai budaya masyarakat Tengger dalam pengelolaan kawasan taman nasional.

Selain itu, langkah ini diharapkan mampu memulihkan kondisi biofisik di kawasan kaldera seluas sekitar 1.000 hektare, termasuk lautan pasir dan padang rumput yang mulai mengalami tekanan akibat aktivitas wisata.

“Penataan ini juga dilatarbelakangi kondisi jalur di kawasan kaldera yang selama ini belum tertata dengan baik, sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem dan penurunan kualitas habitat, seperti anggrek Tosari, rumput Malelo, hingga ular Bhumi Tengger,” ujarnya.

Dalam implementasinya, jalur tersebut akan ditandai dengan pemasangan patok dari Jemplang hingga Wonokitri melalui Cemorolawang. Total panjang jalur diperkirakan mencapai 13 kilometer dengan lebar 18 meter. Panjang ini merupakan hasil penyesuaian dari rencana awal, setelah mempertimbangkan keberadaan area sakral yang harus dilindungi.

Sebanyak 9.725 patok akan dipasang dan dihubungkan menggunakan tali sling sebagai pembatas jalur. Dengan sistem ini, kendaraan wisata seperti jip maupun sepeda motor diharapkan tidak lagi memasuki area terlarang, baik kawasan sakral maupun zona konservasi yang sensitif.

Selain pembangunan jalur, BBTNBTS juga merencanakan pembangunan tiga rest area yang dilengkapi fasilitas toilet di kawasan lautan pasir. Lokasi rest area tersebut akan ditempatkan di sekitar Jemplang, Cemorolawang, dan Wonokitri. Area ini nantinya akan dimanfaatkan oleh pedagang yang telah terdata, sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan lebih tertata.

Fasilitas pendukung lain juga akan dibangun, di antaranya empat kantong parkir termasuk area khusus parkir kuda, serta 60 titik sumur resapan guna mendukung konservasi lingkungan di kawasan tersebut.

“Pengerjaan dijadwalkan dimulai pada 17 April 2026 dan ditargetkan rampung pada 7 Oktober 2026. Kami berharap dukungan dari seluruh pihak agar pengelolaan Bromo ke depan menjadi lebih baik dan berkelanjutan,” tambahnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari tokoh adat Tengger. Dukun Pandita Suku Tengger, Sutomo, menyatakan bahwa pembangunan JLKT merupakan langkah positif dalam menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi.

“Dengan adanya JLKT ini, ke depan kawasan konservasi dapat lebih terlindungi, sekaligus menjaga keberadaan tempat-tempat sakral di Bromo agar tetap dihormati,” ungkapnya.

Selama proses pembangunan berlangsung, kawasan wisata Gunung Bromo tetap dibuka untuk umum. Pihak pengelola akan menyiagakan petugas di lapangan guna memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan tetap terjaga selama pengerjaan proyek berlangsung. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow