Konsolidasi Bersama UNDP Indonesia, GRADASI Didorong Jadi Model Inovasi Pengelolaan di Jawa Timur
UNDP Indonesia menggandeng GRADASI Jawa Timur mengelola sampah berkelanjutan, memaksimalkan peran komunitas dalam sinergi program sedekah sampah untuk ketahanan pangan dan wisata edukasi.
SURABAYA, SJP - Masalah tentang pengelolaan sampah masih menjadi momok di Indonesia, tak terkecuali Jawa Timur. Karena itu, United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia terus berupaya mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan melalui sinergi dengan komunitas lokal di berbagai daerah.
Setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke KBA Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya, kini UNDP Indonesia menggelar kegiatan konsolidasi mengenai Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Jawa Timur di Kampoeng Oase Songo, Surabaya.
Acara tersebut berlangsung dalam bentuk kunjungan dan pertemuan koordinatif bertajuk "Evaluasi dan Strategi Implementasi GRADASI di Wilayah Surabaya Raya, dan Sekitarnya" guna mengonsolidasikan program sedekah sampah yang efektif dan berkelanjutan.
Hartoni Anwar, Staf Environment Unit UNDP Indonesia, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk memperkuat peran komunitas dalam menangani sampah di wilayah Surabaya dan sekitarnya.
"Nanti akan ada pertemuan lanjutannya. Nah output yang ingin kita capai dari pertemuan ini adalah kita ingin mengevaluasi program sedekah sampah ini sudah sejauh mana, dan sudah efektifkah atau belum," ucap Hartono saat dikonfirmasi pada Senin (12/5/2025).
"Dan tadi Alhamdulillah sudah kita sepakati bersama bahwa kita perlu perpanjangan tangan untuk mengomunikasikan dari atas ke bawah siapa yang mengkoordinatori di setiap wilayah itu jelas," imbuhnya.
Kegiatan konsolidasi GRADASI itu merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Pemerintah Uni Emirat Arab (UAE) dan Indonesia yang diteken pada April 2024 lalu. Selain di Kota Pahlawan, UNDP juga melakukan survei tentang pengelolaan sampah di daerah lain, seperti Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Badung (Bali).
"Jadi Environment Unit di UNDP kita ingin mengembangkan inovasi pengelolaan sampah yang langsung melibatkan masyarakat, karena itu kita lakukan survei terlebih dahulu ke beberapa tempat yang sudah ada penerapannya," ucap Hartoni.
12 Tahun Gerakan Sedekah Sampah Indonesia
Diketahui, GRADASI yang sudah ada sejak 12 tahun lalu itu, merupakan upaya kampanye yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran sampah plastik dengan cara mengajak masyarakat, terutama umat muslim agar melakukan sedekah di masjid.
Awalnya GRADASI hanya berfokus menyasar pada warga Indonesia yang beragama muslim, namun seiring berjalannya waktu dikolaborasikan dengan agama lain.
"Di tahun 2021 kami berkolaborasi dan bersinergi dengan Majelis Ulama Indonesia atau MUI untuk mewadahi program ini. Kenapa? Karena kami melihat pergerakan program ini seperti sporadis. Artinya di satu wilayah ada Sedekah Sampah dengan nama yang berbeda-beda," papar Hartoni.
"Kami coba menggali potensi untuk dikolaborasikan dengan agama lain. Dan Alhamdulillah kami menjalankan program ini beriringan yang akhirnya terciptalah Gerakan Sedekah Sampah Indonesia," sambungnya.
Kebanggaan bagi Kampoeng Oase Songo
Tidak hanya sebagai tuan rumah konsolidasi, Kampoeng Oase Songo juga aktif dalam kegiatan edukasi warga terkait pengelolaan sampah. Yaning Mustikaningrum, Ketua Kampoeng Oase Songo, merasa bangga tempatnya dipilih untuk menjadi lokasi kegiatan.
"Karena saya sudah 12 tahun mengelola sampah ini, ada gerakan GRADASI Jawa Timur yang khususnya terus ditempatkan di tempat saya. Luar biasa, saya merasa terapresiasi, senang, semoga saya bisa mengedukasi masyarakat di sini untuk mau bersedekah sampah demi mengentaskan kemiskinan," kata Yaning.
Sustainable Tourism dan Ketahanan Pangan
Senada dengan Yaning, Adi Candra selaku pembina Kampoeng Oase Songo juga bangga bisa mendapatkan tamu istimewa dari jejaring-jejaring yang ada di forum-forum nasional seperti GRADASI. Ia juga menambahkan tentang Program Eduwisata yang telah diimplementasikan di Kampoeng Oase Songo.
"Memang betul, pengolahan sampah yang baik itu bak sedekah yang bisa menghantarkan rezeki bagi yang mengelola. Dan di Kampoeng Oase Songo, kini sudah bisa menjual paket Eduwisata yang bisa dibeli oleh pengunjung untuk belajar disini," ucap Adi.
"Jadi ada kehadiran prinsip sustainable tourism atau para wisatawan yang bisa mendapatkan something to see, something to do, dan something to buy," tandasnya.
Melalui program sinergi dengan GRADASI dan survei inovasi pengelolaan sampah di daerah lain, UNDP Indonesia berharap dapat menemukan model terbaik dalam menangani sampah berbasis masyarakat.
Sementara itu, Kampoeng Oase Songo diproyeksikan menjadi kampung percontohan untuk urban farming dan sustainable tourism, sehingga mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga kebersihan lingkungan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

