Jembatan Kayu Jadi Alternatif Pejalan Kaki Selama Pembangunan Jembatan Sentong Bondowoso
Jembatan kayu alternatif di Bondowoso dibangun dari dana BTT untuk pejalan kaki selama pembangunan Jembatan Sentong, membantu mobilitas warga dan mendapat apresiasi masyarakat sekitar.
BONDOWOSO, SJP – Di tengah aktivitas pembangunan jembatan alternatif yang menghubungkan Kelurahan Nangkaan dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i, turun langsung meninjau progres pembangunan ke lokasi.
Jembatan alternatif yang kini menjadi tumpuan mobilitas sementara masyarakat tersebut dibangun melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp75 juta. Pengerjaannya ditargetkan rampung dalam 14 hari, terhitung sejak dimulai pada 11 April 2026.
Meski dibangun dengan konstruksi kayu, jembatan sederhana yang diprioritaskan bagi pejalan kaki ini menjadi jawaban atas aspirasi warga yang menginginkan akses aman di tengah proses pembangunan Jembatan Sentong yang diperkirakan berlangsung selama delapan bulan.
“Alhamdulillah, hari ini saya melihat langsung jembatan alternatif ini. Ini memang permintaan warga. Meski masih sederhana, ke depan akan kita upayakan lebih kokoh,” ujar Wakil Bupati Bondowoso, didampingi Kepala Dinas BSBK dan Kalaksa BPBD.
Meskipun sederhana, jembatan tersebut menjadi urat nadi penting bagi aktivitas harian warga, mulai dari anak sekolah hingga pedagang kecil yang harus tetap melintas. Bahkan, tak sedikit Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD memilih berjalan kaki dengan memarkir kendaraan mereka di wilayah Nangkaan.
Usai meninjau, Wabup mengapresiasi semangat masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut dengan penuh kesadaran. Ia juga mengimbau pentingnya menjaga kebersihan dan perawatan jembatan melalui kerja bakti rutin setiap hari Jumat agar tetap layak dan nyaman digunakan.
“Kita akan adakan kerja bakti tiap Jumat, supaya lingkungan tetap bersih, tidak ada sampah, dan masyarakat merasa nyaman,” tambahnya.
Sementara itu, pembangunan Jembatan Sentong disebut masih terus berjalan, meski belum maksimal karena sebagian masyarakat masih menggunakan jalur lama. Pemerintah berharap, dengan dialihkannya akses pejalan kaki ke jembatan alternatif, proses pembangunan dapat berjalan lebih optimal.
“Nanti jika masyarakat sudah sepenuhnya dialihkan ke sini, pembangunan jembatan utama bisa lebih maksimal,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan, jembatan alternatif ini bukan sekadar penghubung antarwilayah. Konstruksi kayu yang kokoh tersebut menjadi simbol gotong royong, kesabaran, dan harapan warga akan hadirnya akses yang lebih baik di masa depan.
Antusiasme warga terlihat saat jembatan alternatif tersebut hampir selesai dan siap difungsikan. Kehadiran akses sementara ini dinilai sangat membantu aktivitas sehari-hari yang sebelumnya sempat terganggu akibat pembangunan Jembatan Sentong.
Sejumlah warga mengaku kini dapat kembali beraktivitas dengan lebih tenang, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga berbelanja ke wilayah seberang.
Salah seorang warga, Tindy (37) warga Kelurahan Dabasah yang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, meski jembatan tersebut masih sederhana, namun jauh lebih aman dibanding sebelumnya.
“Kami tidak perlu memutar untuk ke kantor (DLH). Sepeda motor bisa dititipkan di Nangkaan, lalu kami berjalan kaki ke kantor. Ini sangat menghemat BBM dibanding harus memutar lewat jalur alternatif Nangkaan - Duko - Kembang,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Siti Aminah (43), yang setiap hari melintas untuk mengantar anaknya ke sekolah. Ia mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam merespons aspirasi masyarakat.
“Kami sangat terbantu, apalagi sekarang sudah ada jalur khusus pejalan kaki. Semoga bisa dirawat bersama dan pembangunan jembatan utamanya segera selesai,” ujarnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

