JAKARTA, SJP - Provinsi Jawa Timur mencatat jumlah kasus super flu tertinggi di Indonesia berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan RI. Hingga akhir Desember 2025, dari total 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang terdeteksi di delapan provinsi, sebanyak 23 kasus atau sekitar 37 persen di antaranya ditemukan di Jawa Timur. Angka ini menempatkan Jawa Timur sebagai wilayah dengan kontribusi kasus terbesar secara nasional, melampaui provinsi lain seperti Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa tingginya angka kasus di Jawa Timur tidak dapat dimaknai secara sederhana sebagai lonjakan penularan yang lebih berbahaya. Menurutnya, temuan tersebut justru mencerminkan sistem surveilans dan pelaporan kasus yang berjalan aktif dan efektif di daerah. "Kapasitas deteksi yang baik membuat kasus lebih cepat teridentifikasi dan tercatat, sehingga angka yang muncul terlihat lebih tinggi dibanding wilayah lain," katanya mengutip dari metronews.com.
Prima menambahkan bahwa virus yang beredar merupakan influenza A (H3N2) subclade K yang secara karakteristik tidak menunjukkan tingkat keganasan lebih tinggi dibandingkan influenza musiman. Berdasarkan pemantauan Kemenkes dan rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian ini tidak menyebabkan peningkatan kasus berat maupun kematian. "Secara klinis, gejala yang dialami pasien masih menyerupai flu pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan pegal otot, dengan mayoritas pasien dapat pulih melalui perawatan standar," tambah Prima.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada istilah “super flu” yang berpotensi menimbulkan kepanikan. Dari sudut pandang medis dan epidemiologi, penyakit ini tetap merupakan influenza yang penanganannya sama seperti flu musiman lainnya. Meski demikian, Kemenkes tetap meningkatkan kewaspadaan nasional, terutama di wilayah dengan jumlah kasus tinggi seperti Jawa Timur, melalui penguatan surveilans sentinel, koordinasi dengan dinas kesehatan daerah, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala flu yang tidak kunjung membaik, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Prima menegaskan bahwa dengan langkah pencegahan yang konsisten dan sistem pemantauan yang berjalan, penyebaran super flu di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, masih berada dalam kondisi terkendali dan tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan. (**)