Hardiknas 2025, Khofifah Tegaskan Komitmennya untuk Pendidikan Keluarga Prasejahtera
Momentum Hardiknas harus menjadi refleksi dan bukan sekadar seremoni. Dengan keterlibatan dan kontribusi berbagai pihak, diharapkan pendidikan yang baik dan merata bisa segera tercapai di Tanah Air.
SURABAYA, SJP — Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 digelar di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (2/5/2025). Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan bagi keluarga prasejahtera.
Hardiknas yang diperingati setiap tanggal 2 Mei merupakan penghormatan atas jasa Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsipnya yang terkenal, ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, menjadi fondasi utama dalam pembangunan pendidikan nasional.
Momentum Hardiknas tahun ini menjadi refleksi akan pentingnya pemerataan pendidikan. Terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini kerap tersisih. Hal tersebut sejalan dengan tema nasional Hardiknas yang diangkat, yaitu ”Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Akses untuk yang tak Tertampung di Sekolah Negeri
Gubernur Khofifah menjelaskan, daya tampung sekolah negeri di Jawa Timur masih terbatas. Dari total lulusan SMP sederajat, hanya 38,31 persen yang dapat ditampung di SMA dan SMK negeri.
"Artinya, ada lebih dari 420 ribu anak yang harus kita fasilitasi melalui jalur swasta. Ini bukan jumlah kecil," tegas Khofifah, Jumat (2/5/2025).
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemprov Jatim memberikan bantuan sebesar Rp1 juta bagi calon murid dari keluarga prasejahtera kategori desil 1 dan 2 yang tidak diterima di sekolah negeri dan tidak menerima bantuan dari program lain seperti PIP.
"Kami ingin memastikan bahwa anak-anak dari keluarga prasejahtera tetap bisa melanjutkan pendidikan, meski lewat jalur swasta," ujar Khofifah.
Setiap kabupaten dan kota mendapat kuota 150 murid. Dana yang dikucurkan untuk program disebut mencapai Rp5,7 miliar pada tahun anggaran 2025.
Kolaborasi dengan Sekolah Swasta
Dukungan pendidikan juga diperluas melalui kerja sama dengan SMA, SMK, dan SLB swasta di seluruh Jawa Timur. Hingga saat ini, sudah ada 17 dari 24 cabang dinas pendidikan yang telah menjalin MoU dengan sekolah-sekolah swasta di wilayahnya.
Sekolah-sekolah itu sepakat untuk menyediakan kuota berupa beasiswa penuh maupun biaya pendidikan terjangkau bagi siswa prasejahtera dan siswa berprestasi yang tidak lolos seleksi negeri.
"Ini adalah kerja kolektif. Saat ekonomi keluarga sedang sulit, pendidikan tetap harus dijangkau. Dan sekolah swasta telah menjadi bagian dari solusi," kata Khofifah.
Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menunjukkan, hingga saat ini meski masih ada tujuh cabdin yang masih dalam proses, namun jumlah siswa yang telah difasilitasi dari kerja sama itu sudah mencapai 28.000 orang. Angka tersebut hampir mencapai target yang ditentukan. Yakni 30 ribu kuota beasiswa.
Akses Digital melalui Web SPMB
Seperti yang diketahui, mulai tahun ajaran 2025–2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengganti sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dengan harapan proses yang lebih transparan.
Upaya tersebut ditunjukkan melalui platform digital SPMB yang tidak hanya digunakan sebagai kanal utama seleksi dan pendaftaran, namun kini juga bisa menampilkan sekolah-sekolah swasta yang telah bekerja sama dalam program kuota untuk kaum prasejarah.
"Jadi ketika seorang anak tidak diterima di sekolah negeri, mereka bisa langsung melihat daftar sekolah swasta mitra pemerintah melalui web SPMB. Jika namanya muncul di situ, artinya sekolah itu sudah menyediakan kuota beasiswa atau biaya terjangkau," jelas Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai.
Model Pembiayaan Bertingkat
Aries juga menjelaskan, bahwa bantuan pendidikan disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing keluarga.
"Kalau dari keluarga desil 1 atau desil 2, otomatis beasiswa penuh. Tapi kalau dari keluarga menengah, maka bentuk bantuannya bisa parsial. Misalnya SPP Rp100 ribu, pemerintah bantu Rp50 ribu atau Rp25 ribu, tergantung kemampuan,” katanya.
Sepatu dan Air Mata di Grahadi
Di sisi lain, peringatan Hardiknas di Jawa Timur kali ini juga diwarnai momen haru. Gubernur Khofifah menyerahkan 1.000 pasang sepatu kepada anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2. Beberapa murid bahkan terlihat menitikkan air mata saat momen pemberian sepatu tersebut.
Bagi banyak anak, sepatu bukan sekadar perlengkapan sekolah, melainkan simbol harga diri dan kesempatan untuk belajar tanpa minder. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa masih ada banyak PR tentang pemerataan pendidikan di Jawa Timur.
Sebagai bentuk apresiasi tambahan, Khofifah juga mengajak siswa paduan suara yang tampil di upacara untuk menonton film animasi “Jumbo” secara gratis. Film tersebut merupakan hasil karya anak bangsa dan bahkan melibatkan siswa SMK dalam proses produksinya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

