Dari Pekarangan Rumah, Mahasiswa KKN UNP Ajarkan Warga Jamsaren Tanam Bawang Merah dengan Polybag
Sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusantara PGRI Kediri mengedukasi masyarakat Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, memanfaatkan pekarangan rumah menanam bawang merah dengan cara sederhana dan praktis.
KEDIRI, SJP - Kenaikan harga bawang merah yang kerap terjadi belakangan ini membuat banyak rumah tangga di perkotaan harus lebih cermat mengatur belanja dapur. Di tengah kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusantara PGRI Kediri memilih menawarkan solusi yang paling dekat dengan warga: memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga.
Gagasan itu diwujudkan melalui pelatihan urban farming yang digelar di Taman Kleco, Kelurahan Jamsaren, Minggu (22/2/2026). Sejak pagi, kegiatan ini diikuti perwakilan RT, kelompok tani, serta warga sekitar yang ingin belajar menanam bawang merah dengan cara sederhana dan praktis.
Pelatihan tersebut menitikberatkan pada budidaya bawang merah menggunakan media polybag. Metode ini dipilih karena dinilai paling sesuai dengan karakter kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Selain tidak memerlukan area luas, polybag juga mudah dipindahkan dan dapat ditempatkan di halaman sempit, teras, hingga depan rumah.
Koordinator kegiatan Purno Sujoko menjelaskan, tantangan utama pertanian perkotaan bukan sekadar soal keterbatan ruang, melainkan pola pikir warga. Alih fungsi lahan selama ini membuat aktivitas bertani identik dengan sawah atau kebun luas di pedesaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bertani tidak selalu harus punya lahan besar. Bahkan lahan 1x1 meter di depan rumah bisa menjadi lumbung pangan keluarga jika dikelola dengan teknik yang tepat,” ujarnya.
Berbeda dari sosialisasi satu arah, pelatihan ini dirancang dengan pendekatan learning by doing. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi langsung mempraktikkan setiap tahap budidaya. Dengan pendampingan mahasiswa KKN dan praktisi pertanian, warga belajar meracik media tanam dari campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam, memilih bibit unggul, hingga mengenal teknik pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Sesi diskusi dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai kendala yang kerap mereka hadapi di rumah, mulai dari perawatan harian hingga kekhawatiran terhadap serangan hama. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama praktik. Bayu, salah seorang peserta mengaku metode ini jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan. “Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Kalau begini, ibu-ibu PKK pasti semangat menanam di rumah masing-masing,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta membawa pulang polybag yang sudah ditanami bawang merah. Langkah ini menjadi upaya agar kegiatan tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut menjadi praktik nyata di tingkat rumah tangga. Tim KKN berharap, inisiatif kecil dari Taman Kleco ini dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas di lingkungan Jamsaren.
Jika dilakukan secara konsisten, pola tanam berbasis pekarangan ini diyakini memiliki dampak berlapis. Selain menyediakan cadangan bahan pangan sendiri, keluarga dapat mengurangi tekanan belanja harian saat harga naik dan menurunkan ketergantungan penuh pada pasokan pasar. Dalam jangka panjang, model ini berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus membangun budaya produksi pangan dari ruang hidup terdekat masyarakat.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini membawa pesan sosial yang kuat: menghadapi gejolak harga pangan dan ketidakpastian ekonomi, warga dapat memulainya dari aksi kolektif yang sederhana, murah, dan mudah direplikasi. (**)
Penulis: mahasiswa KKN-T Kelompok 44 UNP
Editor: Danu
What's Your Reaction?

