“Beauty of Balai Pemuda Surabaya”, Ratusan Pelukis Melukis Bersama Sambut Hari Kartini

Jelang Hari Kartini, sekitar 250 pelukis memadati Balai Pemuda Surabaya sembari melukis langsung Arumi Bachsin dan Marcella Zalianty dalam acara Beauty of Balai Pemuda Surabaya yang digelar oleh Sanggar Merah Putih.

19 Apr 2026 - 15:32
“Beauty of Balai Pemuda Surabaya”, Ratusan Pelukis Melukis Bersama Sambut Hari Kartini
Seorang peserta dengan penuh konsentrasi melukis wajah Marcella Zalianty dalam kegiatan OTS di Balai Pemuda, jelang peringatan Hari Kartini (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Menjelang peringatan Hari Kartini yang jatuh pada pekan ini, berbagai cara dilakukan masyarakata. Di Surabaya, paraseniman merayakan dengan menggelar kegiatan melukis bersama ditempat atau on the spot (OTS) di pelataran Balai Pemuda.

Ratusan pelukis dari berbagai daerah berkumpul dalam ajang “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang digelar oleh Sanggar Merah Putih dan Galeri Merah Purih (GMP). Mereka melukis secara langsung dengan menghadirkan dua figur publik sebagai model, yakni Arumi Bachsin Emil Dardan dan artis Marcella Zalianty.

Antusiasme Ratusan Pelukis, OTS Jadi Daya Tarik

Ketua Sanggar Merah Putih sekaligus ketua GMP, Cak Anis, menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk apresiasi seniman terhadap Balai Pemuda sebagai ruang berkesenian di Surabaya. Ia menyebut konsep melukis langsung dengan model seperti ini tergolong jarang digelar.

"Acara ini tema Hari Kartini, kita menghadirkan dua model partisipan untuk dilukis teman-teman. Ini acara yang langka, dan dua partisipan ini layak dijadikan model," ujar Anis saat dikonfirmasi pada Minggu (19/4/2026).

Dalam waktu singkat, jumlah peserta membludak. Awalnya dibatasi 197 orang karena kebutuhan teknis perihal pembuatan sertifikat, namun karena pendaftaran terus dibuka hingga hari-h, akhirnya pendaftar terus bertambah hingga mencapai sekitar 200–250 peserta.

"Ini kita umumkan sekitar 10 hari yang lalu, dan yang sudah terdaftar ada di angka 197. Tapi yang ikut akhirnya bisa 200 sampai 250. Jadi acara ini mungkin OTS dengan model yang pesertanya terbanyak," kata dia.

Anis mengungkapkan bahwa peserta tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Banyuwangi, Madura, hingga luar Jawa Timur seperti Yogyakarta, Wonosobo, bahkan Maluku Utara.

Hasil karya para peserta nantinya tidak berhenti di lokasi acara. Lukisan akan dikumpulkan, dikurasi, dan dipamerkan di Galeri Merah Putih serta galeri basement di kawasan Alun-Alun Surabaya.

Kolaborasi dengan Pemkot, GMP Tidak Berpolemik di Balai Pemuda

Cak Anis menegaskan bahwa kegiatan kali ini adalah hasil kolaborasi dengan Pemkot Kota Surabaya selaku pemberi fasilitas. Selain itu, kegiatan tersebut juga menggandeng Pemprov Jatim, yang mana istri Wagub Jatim Emil juga dihadirkan untuk menjadi model lukis.

"Ini bukan acaranya Pemkot, tapi kami difasilitasi. Kami bekerja sama dengan Pemkot, juga ada dukungan dari pihak lain juga seperti Tesla selaku pihak yang menyediakan cat untuk oara pelukis," ujarnya.

Di tengah polemik yang belakangan mencuat terkait pengelolaan Balai Pemuda, Anis mewakili GMP memilih untuk tidak memperuncing persoalan. Menurutnya, kegiatan ini justru menjadi bukti bahwa ruang tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk kesenian.

"Saya berharap tidak ada masalah. Kami tidak ada masalah dengan Pemkot atau pihak manapun, dan saya harap kalau ada pihak lain yang masih berpolemik agar bisa segera selesai," katanya.

Cak Anis yang berkecimpung di Balai Pemuda sejak 1973 juga menegaskan bahwa sejak lama Balai Pemuda dikenal sebagai “oase kesenian” yang harus tetap hidup untuk berbagai cabang seni, tidak hanya seni lukis tetapi juga teater, tari, dan pertunjukan lainnya.

Emil Dardak: Balai Pemuda Milik Semua

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir mendampingi istrinya sebagai model, menilai kegiatan yang digelar oleh GMP menunjukkan bahwa Balai Pemuda masih menjadi pusat aktivitas seni di Surabaya.

"Balai Pemuda ini adalah episentrum Surabaya. Kita ingin tempat ini jadi milik semua kalangan," ujar Wagub yang akrab disapa Kang Emil itu.

Menurutnya, suasana informal dalam kegiatan melukis bersama itu justru menghadirkan kedekatan antar pelaku seni, pemerintah dan juga masyarakat.

"Dengan kemasan yang informal, suasananya jadi lebih gayeng dan penuh kekeluargaan," katanya.

Ia juga menekankan bahwa keberadaan ruang seni seperti ini penting untuk membangun karakter dan estetika kota yang tidak bisa hanya dibentuk melalui konsep atau teori semata.

Ruang Ekspresi Tanpa Batas

Sebagai salah satu model, Marcella Zalianty yang datang dari Jakarta mengaku terkesan dengan konsep acara yang dinilainya unik dan inklusif. Ia hadir memenuhi undangan budayawan yang juga mentornya, Erros Djarot yang turur hadir dalam acara tersebut.

"Ini ruang ekspresi. Saya senang sekali bisa hadir dan bertemu para pelukis dari berbagai daerah," ujarnya.

Ia juga menyoroti keberagaman peserta yang tidak hanya datang dari berbagai wilayah, tetapi juga melibatkan pelukis dengan kebutuhan khusus.

"Ada peserta disabilitas juga. Jadi semua bisa berkarya tanpa batas," katanya.

Marcella bahkan sempat terkejut dengan antusiasme peserta yang mendekat untuk mengambil foto dirinya saat berpose, yang kemudian ia ketahui bahwa para seniman mengambil gambar dirinya untuk mendapatkan referensi lukisan yang lebih detail.

"Mereka butuh melihat lebih dekat untuk menangkap ekspresi. Itu menarik sekali melihat para seniman sampai seantusias itu," tuturnya.

Pemkot Dorong "Beauty of Balai Pemuda Surabaya" Jadi Agenda HJKS

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disbudporapar Surabaya, Herry Purwadi, menyebut kegiatan yang digelar oleh GMP sebagai bentuk kolaborasi positif antara komunitas seni dan pemerintah.

"Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sanggar Merah Putih yang berkolaborasi dengan Pemkot Surabaya," ujarnya.

Ia bahkan membuka peluang agar acara serupa masuk dalam rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) pada tahun mendatang. Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam acara tersebut menunjukkan bahwa agenda melukis OTS juga diminati masyarakat Kota Pahlawan.

"Kami berharap tahun depan bisa masuk agenda HJKS agar lebih banyak lagi yang berpartisipasi dan lebih memeriahkan rangkaian HJKS yang berjalan sampai sebulan penuh," katanya.

Terkait polemik yang sempat mencuat, Herry menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat adanya persoalan mendasar antara pemerintah dan seniman. Menurutnya hanya beberapa pihak saja yang berselisih paham dan merasa kegiatan yang digelar oleh GMP sebagai bukti hubungan Pemkot Surabaya dan seniman baik-baik saja.

"Kami merasa tidak pernah ada polemik. Yang penting komunikasi selalu dijaga dan kolaborasi," ujarnya.

Balai Pemuda Tetap Hidup di Tengah Dinamika

Sebagai salah satu ruang seni yang bernaung di Balai Pemuda, Galeri Merah Putih sendiri menjadi galeri milik pemerintah kota Surabaya dengan ukuran terkecil, namun memiliki aktivitas paling padat. Dalam setahun, ruang berukuran sekitar 8 x 4,5 meter itu mampu menggelar hingga 39–40 pameran, menjadikannya salah satu titik paling aktif dalam ekosistem seni rupa di Surabaya.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa geliat seni rupa di Surabaya tetap hidup dan produktif. Meski dinamika terkait pengelolaan Balai Pemuda belum sepenuhnya mereda, kegiatan seperti melukis bersama dan galeri yang aktif, menunjukkan bahwa semangat berkesenian para pelaku seni tidak surut, dan justru terus tumbuh dan menemukan ruangnya sendiri. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow