Agroklimat Disebut Jadi Kendala Utama Pertumbuhan Apel di Kota Batu
Meski menghadapi kondisi yang cukup berat, Pemerintah Kota Batu menunjukkan komitmen kuat untuk mempertahankan apel sebagai simbol dan warisan pertanian lokal. Salah satunya upaya yang dilakukan sejak 2021 lalu, DPKP telah menjalankan program revitalisasi lahan pertanian apel yang fokus pada pemulihan kondisi tanah dan adaptasi terhadap tantangan iklim. Hingga tahun 2024, total lahan apel yang telah direvitalisasi mencapai 278,5 hektare.
KOTA BATU, SJP—Kota Batu yang selama ini dikenal sebagai ikon penghasil buah apel di Indonesia terus menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan identitas tersebut.
Faktor utama yang menyebabkan sulitnya pertumbuhan apel di wilayah ini adalah perubahan kondisi agroklimat, yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan kualitas buah.
Perubahan suhu udara, pola curah hujan yang tidak menentu, serta peningkatan kelembapan, juha menjadi indikator penurunan kondisi agroklimat yang mengganggu siklus pertumbuhan apel.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu Heru Yulianto menjelaskan, agroklimat yang memburuk bukan satu-satunya tantangan. Penurunan kesuburan lahan akibat rendahnya kandungan bahan organik tanah juga turut memperparah kondisi.
“Permasalahan utama budidaya apel saat ini adalah terjadinya penurunan kondisi agroklimat. Selain itu juga dikarenakan penurunan kondisi kesuburan lahan akibat penurunan bahan organik tanah, ditandai dengan kandungan C/N organik kurang dari 2,” terang Heru, Kamis (12/6/2025).
Meski menghadapi kondisi yang cukup berat, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menunjukkan komitmen kuat untuk mempertahankan apel sebagai simbol dan warisan pertanian lokal.
Salah satu upaya yang dilakukan DKPP sejak 2021, yaitu menjalankan program revitalisasi lahan pertanian apel yang fokus pada pemulihan kondisi tanah dan adaptasi terhadap tantangan iklim. Hingga tahun 2024, total lahan apel yang telah direvitalisasi mencapai 278,5 hektare.
Langkah revitalisasi ini mencakup penyediaan bibit apel unggul bersertifikat, dukungan sarana produksi seperti pupuk, pestisida, dan hormon pertumbuhan yang ramah lingkungan, serta fasilitasi uji laboratorium untuk mengetahui kandungan unsur hara tanah secara menyeluruh.
Pendampingan teknis secara rutin kepada para petani juga dilakukan sebagai upaya menjaga keberhasilan budidaya apel di tengah kondisi agroklimat yang terus berubah.
Selain fokus pada sektor budidaya, Pemkot Batu juga mengintegrasikan sektor pertanian dengan sektor pariwisata untuk memperkuat daya tarik apel sebagai ikon kota.
"Melalui pengembangan agrowisata petik apel, pemerintah berharap apel tetap relevan dan menarik bagi wisatawan, sekaligus memberi nilai tambah bagi petani," imbuhnya.
Menurut Heru, pendekatan agro kreatif ini telah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), dengan tujuan agar sektor pertanian tidak hanya bertahan tetapi berkembang seiring pertumbuhan sektor wisata.
Langkah-langkah tersebut dilengkapi dengan penerapan konsep smart and integrated farming yang menekankan sistem pertanian terintegrasi dan berbasis teknologi.
"Melalui pendekatan ini, Pemkot Batu berharap dapat menjawab tantangan perubahan iklim, menjaga fungsi lahan produktif, dan memastikan bahwa apel tetap menjadi kebanggaan serta warisan khas Kota Batu bagi generasi yang akan datang," pungkas Heru. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

