Warisan Leluhur di Tanah Perdikan, Pandhe Besi Turen Malang Dihidupkan Kembali

Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian menghidupkan tradisi pandhe besi Turen, menekankan filosofi Asok Bulu Bekti sebagai warisan leluhur dan kebanggaan generasi muda.

03 Sep 2025 - 11:15
Warisan Leluhur di Tanah Perdikan, Pandhe Besi Turen Malang Dihidupkan Kembali
Pengrajin Pandhe besi Purwoto sedang berdiskusi dengan salah seorang anggota paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian di Turen, Kabupaten Malang (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP – Warisan leluhur di tanah perdikan kembali dihidupkan lewat agenda "Ulik Asok Bulu Bekti" yang diinisiasi Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian di Desa Gedog Wetan, Turen, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menyoroti eksistensi pandhe besi tradisional yang hampir terlupakan.

Salah satu pandhe besi yang masih bertahan adalah Purwoto, pengrajin asal Gedog Wetan yang hingga kini masih menerima banyak pesanan celurit.

Keahliannya dianggap sebagai warisan berharga yang selaras dengan filosofi Jawa "Asok Bulu Bekti" yang berarti pengabdian penuh ketulusan sebagai wujud bakti seorang murid kepada guru, atau masyarakat kepada leluhur.

Khairul Amin, anggota Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian, menyebut agenda ini lahir dari kepedulian terhadap khazanah budaya lokal.

"Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi kebanggaan generasi muda. Bahwa desa, kampung, dan kecamatan mereka memiliki sejarah besar yang patut dijaga dan diwarisi," ujarnya, Rabu (3/9/2025).

Sementara itu, Aris Waskito, anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang Fraksi Gerindra, yang turut hadir memberikan apresiasi. 

Menurutnya, kebanggaan terhadap sejarah dan budaya lokal adalah modal utama membangun karakter generasi muda. Ia bahkan menyinggung kisah perjuangan Pangeran Diponegoro yang berakar dari kebanggaan atas warisan leluhur Majapahit.

"Dulu, semangat patriotisme itu muncul karena mereka merasa sebagai keturunan kerajaan besar. Maka, ketika cucu-cucu bangsa ini dijajah, timbul jiwa perlawanan. Itu yang ingin kita tumbuhkan kembali, cinta tanah air melalui jati diri budaya," tegas Aris.

Selain menghidupkan kembali tradisi pandhe besi, kegiatan ini juga diarahkan pada upaya literasi. Sebelumnya, masyarakat Turen pernah memiliki buku tentang sejarah lokal yang kini vakum setelah penggagasnya wafat. 

Harapannya, Amartya Bhumi Kepanjian bisa melanjutkan upaya tersebut agar jejak tanah perdikan Turen dikenal luas.

Aris juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak di Kecamatan Turen telah memberi dukungan penuh terhadap inisiasi Amartya Bhumi, yang terus berupaya membuktikan bahwa nilai budaya dan kearifan lokal tetap relevan di tengah modernitas.

Menghidupkan kembali pandhe besi Turen tak hanya menjaga kerajinan, melainkan juga menanamkan jiwa patriotisme bagi generasi selanjutnya khususnya di Kabupaten Malang. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow