Upacara Kematian Suku Tengger, Tradisi Unik yang Menghormati Roh dan Alam

Suku Tengger, yang mendiami kawasan Dataran Tinggi Tengger di sekitar Pegunungan Semeru dan Bromo, memiliki tradisi dan kebiasaan unik yang diwariskan turun-temurun

20 Dec 2024 - 17:02
Upacara Kematian Suku Tengger, Tradisi Unik yang Menghormati Roh dan Alam
Upacara Suku Tengger (foto: GNFI)

JAWA TIMUR, SJP - Suku Tengger, yang mendiami kawasan Dataran Tinggi Tengger di sekitar Pegunungan Semeru dan Bromo, memiliki tradisi dan kebiasaan unik yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi yang paling menarik adalah upacara kematian, yang berbeda dengan upacara kematian pada umumnya dalam agama Hindu.

Akar Sejarah dan Agama Suku Tengger

Nenek moyang masyarakat Suku Tengger diyakini berasal dari kerajaan Majapahit, seperti yang tercatat dalam Prasasti Walandit yang berangka tahun 1303 dan 1327 Saka. Sebagian besar dari mereka masih memeluk agama Hindu, namun dengan variasi tradisi yang berbeda, terutama dalam upacara kematian.

Upacara Penguburan: Gotong Royong Masyarakat

Saat ada anggota keluarga yang meninggal, masyarakat Suku Tengger akan bergotong-royong untuk membantu mempersiapkan upacara penguburan. Mereka datang dengan membawa berbagai kebutuhan, seperti uang, bahan pokok, tenaga, dan bantuan lainnya, yang dikenal dengan istilah nglawuh. Sebelum dikuburkan, jenazah dimandikan, diletakkan di atas balai, dan dibacakan doa oleh seorang dukun yang memercikkan air prasen pada jenazah. Air doa tersebut juga disiramkan pada tanah kuburan yang akan digali.

Yang membedakan upacara ini dengan upacara Hindu pada umumnya adalah proses penguburan jenazah yang tidak dibakar, melainkan dikuburkan dengan posisi kepala menghadap ke selatan, atau lebih tepatnya ke arah Gunung Bromo.

Boneka Petra: Simbol Roh yang Harus Dihormati

Setelah jenazah dikuburkan, masyarakat Suku Tengger melanjutkan upacara dengan membakar boneka petra, sebuah boneka yang dibuat dengan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Boneka ini berfungsi sebagai simbol roh orang yang sudah meninggal, dan digunakan dalam upacara kematian pada hari ke-3, ke-7, dan ke-40. Pembakaran boneka petra ini dipercaya membantu mengirimkan roh almarhum kembali ke alamnya.

Uniknya, masyarakat Suku Tengger tidak melakukan pembakaran jasad karena tanah Tengger dianggap sebagai "tanah suci" (hila-hila), yang tidak boleh digunakan untuk pembakaran. Sebagai gantinya, mereka menggunakan boneka petra untuk menggantikan proses pembakaran jenazah.

Upacara Nyurup: Simbol Syukur kepada Bumi

Selain upacara penguburan, terdapat juga upacara Nyurup, yang dilaksanakan setelah seseorang meninggal. Upacara ini melibatkan penyajian sesaji berupa manca lima (pencok bakal) dan pras pesangon. Setiap sesaji memiliki makna, seperti pencok bakal yang melambangkan ucapan syukur kepada bumi, dan pras pesangon yang menjadi simbol bekal untuk orang yang telah meninggal.

Upacara Sedekah: Doa untuk Roh yang Telah Pergi

Pada hari ke-11 setelah kematian, masyarakat Tengger mengadakan upacara Sedekah yang dilaksanakan dua kali: pagi dan sore hari. Upacara ini dipimpin oleh Romo Dukun Pandhita dan Romo Mangku. Tiga media penting dalam upacara ini yaitu pras sedekah, pras lungguh, dan Tumpeng Mungkur, yang masing-masing melambangkan pemisahan roh dari keluarga, penyatuan roh dengan Tuhan, serta perbedaan alam antara yang hidup dan yang telah meninggal.

Upacara Entas-Entas: Puncak Perjalanan Roh

Upacara terakhir dalam rangkaian upacara kematian adalah Entas-Entas, yang biasanya dilakukan pada hari ke-1.000 setelah seseorang meninggal. Upacara ini adalah salah satu upacara terbesar dalam masyarakat Suku Tengger, di mana mereka menyiapkan berbagai sesaji dan menyembelih kerbau. Boneka petra juga dibakar pada upacara ini sebagai simbol pengentasan roh dari dunia fana dan memasuki alam abadi.

Kesimpulan

Upacara kematian Suku Tengger menunjukkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang masih dijaga dengan penuh penghormatan terhadap leluhur dan alam sekitar. Walaupun berbeda dengan kebiasaan Hindu pada umumnya, masyarakat Tengger tetap memegang teguh tradisi dan nilai-nilai yang mereka percayai sebagai bagian dari perjalanan hidup dan kehidupan setelah mati. (**)

sumber: goodnewsfromindonesia.id

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow