Uniknya Pasar Segoro di Pesisir Utara Gresik, Kerang Jadi Alat Transaksi Pengganti Uang

Pasar Segoro digelar dalam rangka nguri-uri budaya di pesisir utara Kabupaten Gresik. Uniknya, alat transaksi jual beli dipasarkan tersebut bukan uang tetapi kerang.

06 Jul 2025 - 13:24
Uniknya Pasar Segoro di Pesisir Utara Gresik, Kerang Jadi Alat Transaksi Pengganti Uang
Foto: UMKM di Pasar Segoro. (Foto: Istimewa)

GRESIK, SJP—Acara Pasar Segoro yang digelar di pesisir utara Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, menjadi rujukan wisata budaya baru. Masyarakat tumpah ruah hadir di acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Ngayom Jagad.

Pasar Segoro menyajikan pameran artefak dan karya seni berbasis kehidupan nelayan. Sejumlah replika perahu tradisional yang menggambarkan identitas budaya pesisir daerah setempat dipamerkan.

Selain itu, Pasar Segoro juga menyajikan pertunjukan hiburan penampilan budaya. Puluhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga turut meramaikan acara pasar tersebut. Uniknya, transaksi di Pasar Segoro tidak dilakukan dengan uang tunai seperti biasa, melainkan dengan kerang.

Pasar Segoro akan berlangsung selama dua kali dalam sebulan mengikuti hari tertentu dalam kalender Jawa, yakni Wage dan Pon di sebelah utara makam Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. 

"Alat transaksi di Pasar Segoro ini bukan menggunakan uang biasa namun menggunakan alat transaksi berupa kerang yang punya nilai tukar satu kerang sama dengan 2 ribu rupiah," kata Ketua Pelaksana Pasar Segoro, Khoirul Fatiqin, Ahad (6/7/2025).

Khoirul mengatakan, sistem acara Pasar Segoro ini sengaja dirancang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional dalam transaksi sekaligus menciptakan pengalaman pasar yang unik dan menyenangkan. 

Dia menyebut, pagelaran Pasar Segoro ini menghadirkan sebuah peristiwa budaya yang menggabungkan kuliner tradisional, pertunjukan seni, dan pameran instalasi berbasis kearifan lokal. Acara ini juga bebas dari penggunaan plastik sekali pakai sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan laut. 

"Dengan menghadirkan suasana tempo dulu, bebas plastik, dan menyatu dengan kehidupan warga pesisir, Pasar Segoro menjadi ruang bersama untuk mengenang, merayakan, dan merawat kebudayaan lokal," jelasnya. 

Pasar Segoro terbuka secara gratis untuk seluruh lapisan masyarakat mulai dari pelaku seni, komunitas kreatif pemuda, pelaku industri kreatif dan UMKM, hingga masyarakat umum maupun lembaga pemerintahan.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Campurejo, Amudi, turut mengapresiasi Pasar Segoro yang dilaksanakan kumpulan anak-anak muda di Gresik utara Komunitas Ngayom Jagad.

"Kami, pemerintah desa mengapresiasi pelaksanaan Pasar Segoro ini yang dilaksanakan oleh anak-anak muda. Apalagi mengangkat kebudayaan dan kuliner-kuliner lama di Campurejo yang diangkat kembali untuk dilestarikan," ungkapnya. 

Terkait penggunaan kerang sebagai alat transaksi di Pasar Segoro. Dia menerangkan, kerang tersebut merupakan simbol dari Desa Campurejo yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan.

"Jadi kerang ini merupakan simbol Desa Campurejo, daripada kulit kerang tidak dimanfaatkan. Kita manfaatkan di Pasar Segoro ini untuk alat transaksi," pungkasnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow