Tingkat Prevalensi Kusta Kota Batu Masih Kecil, Dinkes Imbau Hilangkan Stigma

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati pada Rabu (29/1/2025) menyampaikan bahwa meskipun angka prevalensinya kecil, edukasi masyarakat tetap menjadi prioritas untuk menghapus stigma terhadap penderita kusta.

29 Jan 2025 - 18:32
Tingkat Prevalensi Kusta Kota Batu Masih Kecil, Dinkes Imbau Hilangkan Stigma
Tingkat Prevalensi Kusta Kota Batu Masih Kecil, Dinkes Himbau Hilangkan Stigma (Dok/Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP - Tingkat prevalensi kusta di Kota Batu tercatat sangat kecil, hanya sebesar 0,09 per 10.000 penduduk pada tahun 2024. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tingkat prevalensi kusta nasional yang telah berada di angka 0,9 per 10.000 penduduk sejak tahun 2000.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati pada Rabu (29/1/2025) menyampaikan, meskipun angka prevalensinya kecil, edukasi masyarakat tetap menjadi prioritas untuk menghapus stigma terhadap penderita kusta.

“Memberikan pemahaman bahwa kusta bisa diobati dan tidak mudah menular dapat mengurangi prasangka. Selain itu, pemberdayaan pasien melalui dukungan emosional, peningkatan keterlibatan sosial, serta akses ke layanan kesehatan yang inklusif akan membantu mereka menjalani hidup lebih baik,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2024, dua pasien kusta di Kota Batu berhasil menyelesaikan pengobatan selama 12 bulan tanpa mengalami kecacatan, dan tidak ada kasus baru yang dilaporkan. Hal ini menunjukkan keberhasilan pengendalian penyakit kusta di wilayah tersebut.

Namun, stigma masih menjadi tantangan besar. Untuk itu, dr. Susana menegaskan tiga poin penting yang perlu diketahui masyarakat.

“Kusta bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Penyakit ini tidak mudah menular dan tidak menyebar melalui sentuhan biasa. Penderita kusta juga berhak menjalani kehidupan yang normal seperti orang lainnya,” jelasnya.

Dinas Kesehatan Kota Batu terus menggalakkan edukasi dan sosialisasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat. Kolaborasi antara pasien, keluarga, komunitas, dan pemerintah diharapkan mampu menghapus stigma serta memastikan penyintas kusta mendapatkan kehidupan yang inklusif.

Dengan tingkat prevalensi yang rendah dan dukungan yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa kusta bukanlah penyakit yang harus ditakuti, melainkan bisa diatasi tanpa memunculkan diskriminasi terhadap para penyintasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow