Tidak Terima Dituduh Buang Limbah ke Sungai, Pemilik Usaha Ayam di Nganjuk Labrak Tetangganya
Tokoh masyarakat setempat mengaku muak dengan bau tidak sedang yang ditimbulkan dari usaha penyembelihan ayam itu.
NGANJUK, SJP—Sepasang suami istri (pasutri), Edi Susanto dan Lina, pemilik usaha penyembelihan ayam di Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, melabrak tetangganya pada Sabtu (5/7/2025).
Mereka tidak terima atas pemberitaan yang menyebut limbah usaha mereka dibuang ke sungai hingga menimbulkan bau tidak sedap. Karena hal itu, mereka melabrak Surya, tetangganya, yang diduga sebagai sumber informasi.
Dalam peristiwa itu, Edi Susanto mendatangi Surya dan melontarkan kata-kata kasar. Edi menuding Surya telah mencemarkan usahanya.
"Wong gak ngerti apa-apa kok ngomong sembarangan. Apa menuduh usahaku jadi jelek namanya," bentak Lina, istri Edi Susanto, kepada Surya, Sabtu (5/7/2025).
Surya sendiri mengaku kaget ketika dilabrak pasutri tersebut. Dia membantah telah menyebarkan informasi. Namun dia mengakui bahwa dirinya sempat menyampaikan keluhan kepada media perihal bau menyengat dari aliran sungai.
“Saya hanya sampaikan apa yang saya rasakan. Bau itu memang menyengat dan mengganggu. Saya tidak pernah menuduh secara langsung,” ungkap Surya, Sabtu (5/7/2025).
Mbah Binoro, tokoh masyarakat Desa Betet, membenarkan adanya perselisihan antarwarga. Pihaknya mengaku akan mengambil langkah tegas dan akan menutup usaha penyembelihan ayam milik Edi dan Lina.
“Kami akan menutup usaha yang menimbulkan masalah bagi warga terdampak,” ujar Mbah Binoro kepada Suarajatimpost, Sabtu (5/7/2025).
Menurut Mbah Binoro, usaha milik Edi dan Lina tidak mengantongi izin dan legalitas formal. Selain itu, usaha tersebut tidak pernah memberikan kompensasi lingkungan.
Padahal, kata dia, warga setiap hari harus menghirup bau limbah darah ayam yang dibuang ke sungai. Sedangkan sungai itu berdekatan dengan rumah warga.
”Yang jelas warga sudah muak dengan bau limbah darah ayam yang dibuang ke sungai. Saya minta usaha pemotongan unggas ini ditutup saja. Pertimbangannya karena tidak ada iktikad baik dari pengusaha dan mengabaikan protes warga dan warning desa,” tandas Mbah Binoro. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

