Setahun Tak Bisa Bergerak, Pemuda Disabilitas di Jombang Hidup Tanpa Perhatian

Warga asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang itu kini hanya bisa terbaring lemah di kasur selama satu tahun terakhir tanpa mampu bergerak maupun merespons percakapan. Tidak satupun bantuan sosial dari pemerintah mengalir padanya.

26 Nov 2025 - 23:20
Setahun Tak Bisa Bergerak, Pemuda Disabilitas di Jombang Hidup Tanpa Perhatian
Kondisi Arifin warga Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang yang mengalami disabilitas dan kelumpuhan luput dari bantuan sosial saat dirawat kakaknya. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Hidup Mohamad Arifin (34), warga yang sejak lahir mengalami disabilitas, berubah semakin memprihatinkan setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Warga asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang itu kini hanya bisa terbaring lemah di kasur selama satu tahun terakhir tanpa mampu bergerak maupun merespons percakapan.

Di tengah keterbatasan dan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, Arifin sempat terlantar tanpa perawatan hingga akhirnya diurus oleh kakak iparnya, Elik Narodo (39), yang membawanya ke rumahnya di Dusun Menganto, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno sejak September 2025.

Menurut Elik, Arifin sudah menderita gangguan kesehatan sejak lahir. Matanya tidak normal dan terus bergerak tanpa kendali.

Ia pernah menjalani operasi mata saat masih bayi, namun karena usianya belum cukup, sarafnya terkena dampak dan membuatnya mengalami disabilitas mental.

“Sejak lahir itu sudah sakit. Kalau diajak ngomong nggak bisa merespon. Sarafnya kena setelah operasi mata waktu masih kecil,” ungkap Elik saat ditemui di kediamannya, Menganto, Mojowarno, usai merawat Arifin pada Selasa (25/11/2025).

Arifin masih bisa berjalan saat remaja, tetapi kondisi itu berubah drastis.

“Sekarang sudah satu tahun ini lumpuh total. Kedua kakinya lemes, nggak bisa jalan sama sekali, kayaknya adik saya juga terkena diabetes basah, kakinya soalnya terlihat bengkak dan ada lukanya,” tambahnya.

Setelah ayahnya meninggal lebih dulu, Arifin dirawat oleh ibunya. Namun sejak ibunya wafat usai Lebaran 2025, perhatian keluarga mulai memudar.

Meski memiliki tiga saudara kandung lainnya, hanya kakak pertamanya yakni suami Elik yang masih peduli. Dua adik kandung Arifin disebut tidak lagi memperhatikan kondisi kakaknya.

Elik mengaku menemukan Arifin sering kali ditinggal sendirian di rumah Mojokrapak, bahkan dalam kondisi terkunci dari luar.

“Di rumah itu ditinggal sendirian, dikunci. Sama adik-adiknya. Makan minum pun nggak dikasih,” tuturnya.

Padahal di sekitar rumah Arifin terdapat banyak saudara dekat, seperti kakek, paman, dan bibi. Namun tidak ada yang tergerak memberi perhatian.

Melihat kondisi tersebut, Elik dan suaminya memutuskan membawa Arifin ke rumah mereka di Menganto agar bisa dirawat layak. Dengan kesabaran, Elik menggantikan seluruh kebutuhan Arifin mulai dari makan, minum, hingga membersihkan kotoran.

“Kesehariannya ya saya usahakan makan tiga kali. Lauknya seadanya, kadang cuma tahu tempe. Untuk buang air pakai popok semua,” ujar Elik.

Namun merawat Arifin bukan hal ringan. Selain harus menangani semua kebutuhan Arifin seorang diri karena suaminya bekerja di luar kota, Elik sendiri mengaku tengah sakit dan harus kontrol rutin ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Saat Elik harus ke rumah sakit, ia bahkan harus membayar orang lain untuk menjaga Arifin di rumah.

“Beban saya berat sekali. Saya sendiri sakit, tiap bulan kontrol ke Surabaya. Kalau harus pergi, saya bayarin orang buat jagain dia. Karena nggak ada saudara yang peduli,” katanya saat diwawancarai sambil menahan air mata.

Di tengah beban biaya perawatan yang besar mulai dari popok, makanan, hingga kebutuhan lain Arifin sama sekali tidak menerima bantuan dari pemerintah.

“Perhatian dari pemerintah nggak ada. Dulu waktu tinggal sama ibu sempat dapat bantuan beras dan sembako. Tapi setelah ibunya meninggal, saya nggak tahu kok berhenti, atau memang nggak dapat lagi,” jelas Elik.

Arifin juga belum pernah dibawa ke rumah sakit karena kendala biaya dan transportasi, sementara kondisinya hanya bisa berbaring lemah di kasur.

Elik berharap pemerintah maupun pihak terkait bisa turun tangan memberikan bantuan untuk Arifin, baik dalam bentuk bantuan sosial, layanan kesehatan, atau pendampingan untuk penyandang disabilitas.

“Harapan saya ya pemerintah memperhatikan orang seperti ini. Dia nggak bisa apa-apa. Seharusnya dapat bantuan, BLT atau apa, tapi nggak dapat sama sekali,” ucapnya.

Kini, Elik terus merawat Arifin dengan segala keterbatasan, berharap kondisi adik iparnya bisa mendapat perhatian dan uluran tangan dari pihak yang peduli. (**)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow