Seluruh Siswa SMKN 3 Boyolangu Jalani Survei Epidemiologi Pasca Dugaan Keracunan MBG
Hasil survei ini akan disimpulkan setelah hasil uji laboratorium keluar, sehingga bisa diketahui secara pasti penyebab kejadian dugaan keracunan tersebut.
TULUNGAGUNG, SJP - Seluruh pelajar SMK Negeri 3 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menjalani survei epidemiologi (SE), Rabu (21/1/2026) menyusul insiden diare massal yang diduga terjadi setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (19/1/2026) kemarin.
Survei tersebut dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk melengkapi dan memperkuat hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG. Sampel makanan itu sebelumnya diambil dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan yang berlokasi di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu.
Sekretaris Satgas MBG Tulungagung, Sony Welly Ahmadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan SE melibatkan Satgas MBG, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, serta Puskesmas Beji dan Puskesmas Boyolangu. Survei menyasar seluruh siswa SMKN 3 Boyolangu yang terdiri dari 51 kelas.
“Total sasaran sekitar 2.000 siswa. Saat ini sekitar 70 siswa belum masuk sekolah, sementara 123 siswa yang sebelumnya sempat mengalami diare sudah kembali masuk dan secara visual terlihat sehat,” ujar Sony.
Menurutnya, para siswa yang masih mengalami keluhan kesehatan dapat segera dirujuk ke Puskesmas Beji maupun Puskesmas Boyolangu untuk mendapatkan penanganan medis. Selain itu, Satgas juga menerima laporan adanya satu siswa yang memeriksakan diri ke praktik medis mandiri.
“Dari laporan yang kami terima, siswa tersebut tidak sampai dirawat inap. Setelah menjalani pemeriksaan, kondisinya dinyatakan cukup baik dan diperbolehkan pulang,” jelas Sony.
Meski demikian, pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kondisi 70 siswa yang belum masuk sekolah. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan apakah ketidakhadiran mereka berkaitan langsung dengan insiden MBG atau disebabkan oleh penyakit lain yang sudah diderita sebelumnya.
“Kami masih melakukan pengecekan, apakah mereka memang sakit akibat MBG atau sudah sakit sebelum kejadian tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, dr. Aris Setiawan, mengatakan, survei epidemiologi ini bertujuan mengumpulkan data tambahan sebagai pendukung hasil uji laboratorium. Sampel MBG saat ini tengah diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
Untuk memastikan tidak ada data yang terlewat, petugas kesehatan akan mendatangi langsung rumah siswa yang tidak hadir di sekolah guna melakukan SE dari rumah ke rumah.
“Target survei ini seluruh siswa, sekitar 2.000 orang. Bagi siswa yang tidak hadir, petugas akan mendatangi rumahnya agar data benar-benar lengkap,” kata dr. Aris.
Dalam pelaksanaannya, setiap siswa diminta mengisi kuesioner berisi pertanyaan seputar makanan yang dikonsumsi, cita rasa makanan, hingga gejala yang dirasakan setelah mengonsumsi MBG. Data tersebut nantinya akan dianalisis untuk mengidentifikasi kemungkinan jenis bakteri penyebab gangguan kesehatan.
“Hasil survei ini akan kami simpulkan setelah hasil uji laboratorium keluar, sehingga bisa diketahui secara pasti penyebab kejadian tersebut,” pungkas dr. Aris. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

