Bakso Acar Pak No di Kota Batu, Cita Rasa Legendaris dengan Sentuhan Acar Unik

Bakso Acar Pak No di Kota Batu adalah kuliner legendaris sejak 1986 yang terkenal karena kuah baksonya yang unik dengan tambahan acar mentimun, tetap mempertahankan resep turun-temurun dan kualitas bahan asli.

01 Jun 2025 - 18:08
Bakso Acar Pak No di Kota Batu, Cita Rasa Legendaris dengan Sentuhan Acar Unik
Pengunjung membeli Bakso Acar Pak No di Kota Batu. (Beritasatu.com/SJP)

Kota Batu, SJP - Ragam destinasi wisata tak lengkap jika tak disertai godaan wisata kuliner yang menggiurkan.  Salah satu kuliner ikonik yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan adalah Bakso Acar Pak No. Kuliner ini telah hadir sejak tahun 1986 dan mampu bertahan hingga kini berkat inovasi unik berupa tambahan acar mentimun dalam kuahnya.

Berada di kawasan pertokoan Gajah Mada Plaza, warung bakso ini pertama kali didirikan oleh Suwarno, yang lebih dikenal dengan panggilan Cak No. Kini, usaha keluarga ini diteruskan oleh putranya, Dian Ing. Sebagai generasi kedua, Dian tetap mempertahankan cita rasa asli resep warisan ayahnya.

“Bakso ini usaha ayah saya sejak 1986, terus saya lanjutkan mulai 2019. Jadi, sudah hampir 40 tahun berjalan. Saya generasi kedua,”  Kamis (29/5/2025) saat dikutip dari Beritasatu.com

Keistimewaan Bakso Acar Pak No terletak pada keunikan racikan kuahnya. Cak No menambahkan acar mentimun sebagai penyedap utama. Umumnya acar hanya sebagai pelengkap untuk mie ayam atau cuwimie, namun di tangan Cak No, acar justru menjadi elemen penting yang memperkaya rasa.

“Acar ini bikin kuah lebih segar, sedep, dan menghilangkan bau daging yang berlebihan,” jelasnya.

Dian menyebut bahwa racikan acar ini menggunakan campuran cuka, gula, dan garam dalam komposisi khusus yang telah digunakan sejak masa ayahnya. Hal ini membuat acar tetap renyah meski sudah direndam dalam kuah panas.

“Ada takaran yang tidak pernah saya ubah dari zaman ayah saya. Jika takarannya berbeda bisa bikin mentimun lembek dan tidak tahan lama,” terangnya.

Dalam hal bahan baku, mereka tetap mengedepankan kualitas. Daging yang digunakan adalah daging sapi jantan murni tanpa campuran daging ayam. Perbandingan antara daging dan tepung pun sangat dijaga untuk mempertahankan cita rasa asli.

“Dahulu ayah saya menumbuk daging manual, sekarang sudah pakai mesin. Namun, kualitas tetap nomor satu, kami tidak pernah merubah resep sedikit pun,”tutupnya.

Setiap hari, mereka bisa mengolah hingga belasan kilogram daging dan ratusan liter kuah. Kuahnya sendiri terbuat dari perpaduan bawang putih jawa, jahe, bawang merah, balungan sapi, serta daun bawang yang menciptakan rasa khas dan mendalam.

“Selain kuah, dan acar, kami juga punya ciri khas membuat tahu dengan ukuran yang besar. Selain itu, tahunya juga ada campuran daun bawang dan cincangan lemak sapi, rasanya jadi juicy dan lebih nikmat,” katanya.

Warung ini tidak hanya diminati oleh warga sekitar Batu, tapi juga pengunjung dari kota-kota lain di Jawa Timur seperti Surabaya, Mojokerto, Lamongan, Sidoarjo, Kediri, dan Gresik. Bahkan, wisatawan mancanegara dari negara-negara seperti Pakistan, India, hingga Australia pun pernah mampir mencicipi.

“Warung kami buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB tutup paling malam pukul 20.00 WIB, atau kadang pukul 18.00 WIB sudah habis,” pungkasnya. (**)

Editor: Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow