Penutupan Sarasehan MPDI Malang, Wamenag Sebut Pesantren Kekuatan Besar Bangsa
Wakil Menteri Agama menegaskan pesantren tetap menjadi kekuatan strategis bangsa melalui pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di Indonesia.
MALANG, SJP — Pesantren dinilai tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan nasional. Dengan jutaan santri dan puluhan ribu lembaga yang tersebar di berbagai daerah, pesantren disebut memiliki daya pengaruh besar dalam membentuk sumber daya manusia, memperkuat nilai kebangsaan, hingga mendorong pemberdayaan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. (H.C.) K.H. Romo H. R. Muhammad Syafi'i kala menghadiri penutupan Sarasehan Nasional Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) Tahun 2026 di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Ahad (28/6/2026).
Wamenag menegaskan bahwa perjalanan sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kiprah pesantren. Menurutnya, lembaga pendidikan berbasis keagamaan tersebut telah menjadi bagian dari perjuangan bangsa sejak masa merebut kemerdekaan hingga mengisi pembangunan saat ini.
"Pesantren adalah lembaga pendidikan perjuangan yang sejak dahulu satu napas dengan perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan saat ini," terangnya saat dikonfirmasi, Ahad (28/6/2026) disela agenda.
Ia menyebut, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 40 ribu pesantren dengan sekitar 10 juta santri aktif. Jumlah tersebut menjadi modal besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, banyak lulusan pesantren kini telah berkiprah di berbagai sektor strategis, mulai dari pemerintahan, pendidikan, dunia usaha, hingga berbagai profesi lainnya.
"Kalau kita tidak bertanya, kita tidak tahu bahwa alumni pesantren hari ini telah menempati berbagai posisi strategis di Indonesia," katanya.
Wamenag juga mengapresiasi semangat kemandirian yang selama ini ditunjukkan pesantren. Di tengah berbagai tantangan, pesantren dinilai tetap mampu menjalankan fungsi pendidikan sekaligus menjadi pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah memberikan penguatan terhadap eksistensi pesantren melalui tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
"Minat masyarakat terhadap pesantren masih sangat besar karena alumni pesantren terbukti memiliki pemahaman keagamaan, keilmuan, serta wawasan kebangsaan yang kuat," ungkapnya.
Lebih lanjut, Romo Syafi'i berharap keberadaan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2025 mengenai pembentukan Direktorat Jenderal semakin memperluas perhatian pemerintah terhadap pengembangan pesantren, baik dari sisi kelembagaan maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga menilai forum Sarasehan Nasional MPDI menjadi ruang strategis untuk mempererat silaturahmi antarpondok pesantren sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.
"Harapan kita, pesantren tetap berdiri kokoh menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, serta tidak pernah bergeser dari komitmennya bersama pemerintah dalam membangun Indonesia," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum MPDI, KH. Abdurrahman, menegaskan bahwa pesantren siap mendukung berbagai kebijakan pemerintah yang selaras dengan semangat pemberdayaan umat.
Menurutnya, pengembangan koperasi di lingkungan pesantren bukanlah hal baru. Jauh sebelum menjadi program nasional, banyak pesantren telah mengembangkan sistem ekonomi berbasis koperasi untuk memperkuat kemandirian lembaga maupun masyarakat sekitar.
"Koperasi bukanlah sesuatu yang baru bagi pesantren, bahkan kami telah membangunnya jauh sebelum program-program unggulan pemerintah saat ini diluncurkan," ujarnya.
Ia menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan koperasi memiliki keterkaitan erat dengan misi pesantren dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kami menyambut dengan sangat baik hadirnya program-program pemerintah seperti MBG dan penguatan koperasi, karena hal itu semakin memperkuat peran strategis pesantren," katanya.
Menurut KH. Abdurrahman, sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, pesantren, dunia usaha, dan masyarakat akan menjadi modal penting dalam mempercepat pembangunan nasional yang berakar pada nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
"Kami optimistis, dengan dukungan dan sinergi yang baik, pesantren akan semakin besar perannya dalam pembangunan Indonesia," pungkasnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

