Pelajar Tunanetra di Tulungagung Belajar Gamelan dengan Metode Audio Kinestetik
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya mengandalkan pendengaran, tetapi juga dibantu dengan penanda huruf braille pada beberapa instrumen gamelan.
TULUNGAGUNG, SJP - Suara gamelan mengalun harmonis dari Taman Budaya Tulungagung pada Kamis (19/2/2026) pagi. Menariknya, alunan musik tradisional Jawa tersebut dimainkan oleh sejumlah pelajar tunanetra yang mengikuti pelatihan gamelan dengan metode pembelajaran berbasis audio kinestetik.
Program pelatihan ini digagas sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mengenalkan kekayaan seni budaya Jawa kepada pelajar penyandang disabilitas netra.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya mengandalkan pendengaran, tetapi juga dibantu dengan penanda huruf braille pada beberapa instrumen gamelan.
Pelatih gamelan, Aulia Renata, menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang agar pelajar tunanetra memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dan memainkan alat musik tradisional.
“Ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang fokus pada pelatihan gamelan berbasis audio kinestetik bagi pelajar tunanetra,” ujarnya.
Menurut Renata, selama ini pelajar tunanetra lebih sering diperkenalkan pada alat musik modern karena kepekaan mereka terhadap bunyi. Melalui pelatihan ini, ia ingin membuka akses yang lebih luas terhadap kesenian tradisional Jawa.
Proses pembelajaran dimulai dengan mengenalkan bentuk setiap instrumen gamelan melalui sentuhan. Para peserta diajak meraba berbagai alat musik seperti kendang, saron, kenong, gong, demung, bonang, hingga kempul untuk memahami karakteristik masing-masing.
Setelah mengenal bentuk instrumen, peserta kemudian berlatih membedakan suara dan nada yang dihasilkan oleh setiap alat musik. Tahapan ini bertujuan membantu mereka menghafal karakter bunyi sebelum memainkan gamelan secara bersama-sama.
Untuk mempermudah proses belajar, tanda braille dipasang pada alat musik saron dan demung. Penanda tersebut membantu peserta mengenali posisi nada dengan lebih cepat dan akurat.
“Braille pada saron dan demung kami gunakan sebagai alat bantu agar peserta lebih mudah memahami dan mengingat susunan nada,” jelas Renata.
Hasilnya cukup mengesankan. Dalam waktu sekitar satu jam, para peserta sudah mampu memainkan gamelan secara berkelompok dan menghasilkan alunan musik yang selaras.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa seni gamelan dapat dipelajari oleh siapa saja, termasuk pelajar tunanetra, apabila didukung metode pembelajaran yang tepat dan akses yang inklusif.
“Dalam waktu satu jam pengenalan, mereka sudah bisa memainkan gamelan. Ini menjadi bukti bahwa teman-teman tunanetra memiliki potensi besar untuk belajar dan berkarya di bidang seni tradisional,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

