Pasokan Tebu Jadi Tantangan, PT SGN Kejar Produksi Gula 1,1 Juta Ton
Salah satu langkah utama yang dilakukan SGN tahun ini adalah mengakselerasi program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu.
TULUNGAGUNG, SJP - PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menargetkan produksi gula sebesar 1,1 juta ton pada tahun 2026. Target tersebut diproyeksikan menyumbang sekitar 34 persen dari total produksi gula nasional yang diperkirakan mencapai 3 juta ton.
Hal itu disampaikan Senior Executive Vice President (SEVP) Pengembangan PT SGN, Putu Sukarmen saat menghadiri tradisi manten tebu sebagai penanda dimulainya musim buka giling di PT Sinergi Gula Nusantara, Pabrik Gula Mojopanggung, Tulungagung, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, target tersebut sejalan dengan program swasembada pangan nasional yang dicanangkan pemerintah.
“Harapan kita bersama bahwa Pabrik Gula Mojopanggung dalam waktu dekat akan mengawali giling. Tentunya ini selaras dengan Asta Cita Presiden untuk menyongsong swasembada pangan, khususnya konsumsi gula nasional yang diharapkan tercapai pada 2028 dan kini dipercepat menjadi 2027,” ujar Putu.
Ia menjelaskan, salah satu langkah utama yang dilakukan SGN tahun ini adalah mengakselerasi program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu dengan membongkar ratoon (tanaman tebu sisa tebang yang tumbuh kembali) guna meningkatkan pasokan bahan baku tebu.
Menurutnya, ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting dalam meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani dan pekerja di sektor gula.
“Dengan jumlah bahan baku yang cukup, maka harapan kita masyarakat petani akan lebih sejahtera dan karyawan juga lebih sejahtera,” katanya.
Putu menilai tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan bagi PT SGN. Pasalnya, berbagai persoalan eksternal yang terjadi pada 2025 disebut telah terselesaikan. Selain itu, kondisi cuaca tahun ini diprediksi lebih baik dibanding tahun lalu yang mengalami curah hujan tinggi.
“Tahun lalu hujan terus-menerus menjadi isu negatif. Tahun ini dipastikan akan membaik. Meskipun ada ancaman kemarau lebih panjang, tetapi sampai sekarang masih ada hujan sehingga menjadi pertanda yang baik bagi tanaman tebu,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, harga gula juga diprediksi membaik setelah dilakukan analisis oleh akademisi dan praktisi terkait penetapan biaya pokok produksi (BPP) gula.
“Insyaallah akan membawa angin segar bagi petani tebu, khususnya di Mojopanggung,” tambahnya.
Putu menyebut produksi gula PT SGN pada 2025 mencapai 883 ribu ton. Angka tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 23 persen pada 2026 menjadi 1,1 juta ton. Sementara itu, produksi gula nasional tahun lalu berada di angka 2,6 juta ton dan tahun ini diperkirakan mencapai 3 juta ton.
“Kalau nasional masih di angka kebutuhan 2,9 juta ton. Kalau memang produksi 3 juta ton tercapai, maka swasembada gula konsumsi tidak ada isu lagi,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan besar dalam mewujudkan swasembada gula, terutama terkait pasokan bahan baku tebu. Kapasitas pabrik gula milik SGN saat ini disebut jauh lebih besar dibanding ketersediaan bahan baku, sehingga memicu persaingan antar pabrik dalam memperoleh tebu.
“Kapasitas pabrik kita jauh lebih besar daripada kapasitas pasok bahan baku. Akhirnya terjadi persaingan yang berdampak pada kualitas tebu yang dipanen menjadi tidak optimal,” katanya.
Karena itu, program bongkar ratoon dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas tebu tanpa memunculkan persaingan yang tidak sehat antar pabrik gula. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

