Meski Bisa Ciptakan Lagu, AI belum Layak untuk Kreasikan Tilawatil-qur’an
untuk urusan wahyu dan ibadah, biarlah manusia yang tetap menjaga peran, dengan hati, adab, dan iman
SUARAJATIMPOST.COM—Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah membuka berbagai kemungkinan baru dalam dunia musik digital di Indonesia.
Kini, menciptakan lagu bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit melalui sebuah aplikasi AI. Bahkan tanpa keahlian bermusik pun, siapa saja bisa menciptakan sebuah lagu.
Meski begitu, tak semua hal pantas dijadikan objek eksperimen teknologi ini. Terutama saat menyentuh wilayah sakral seperti Al-Quran. AI belum cukup ideal untuk tilawatil-qur’an.
Sejumlah platform populer yang banyak digunakan kreator Indonesia untuk membuat lagu antara lain:
Suno AI – Mengubah teks menjadi lagu dalam berbagai genre, lengkap dengan vokal.
Udio – AI generatif yang bisa menciptakan komposisi lagu dan vokal bernuansa profesional.
Boomy – Membantu pengguna pemula membuat dan mendistribusikan lagu ke platform digital.
Soundraw – Cocok untuk scoring video atau konten media sosial, dengan sentuhan personalisasi tinggi.
Aiva & Amper Music – Lebih sering digunakan untuk musik instrumental, film scoring, dan konten kreatif lainnya.
AI mampu meniru suara manusia, menyusun melodi, dan menerapkan teknik vokal secara digital. Namun ketika teknologi ini diarahkan untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an, persoalan etika dan adab agama tak bisa dikesampingkan.
Sebab, tilawah bukan hanya bacaan berintonasi, melainkan bagian dari ibadah. Ia mengandung adab, ruh, dan kekhusyukan yang tidak bisa diproduksi oleh algoritma.
Mesin tak punya niat, tak punya iman, dan tak bisa menghadirkan rasa, yakni takut kepada Tuhan. Karena itu, secanggih apa pun teknologi AI, ia tetap tak layak digunakan untuk membaca wahyu.
Namun demikian, penggunaan AI untuk membantu atau sebagai tools belajar tajwid bisa menjadi hal yang berguna. Misalnya dalam bentuk koreksi pelafalan atau pembelajaran interaktif.
Tapi menjadikan AI sebagai pembaca Al-Qur’an secara penuh dan publik, apalagi untuk didengarkan sebagai tilawah, justru dapat menjauhkan manusia dari kedalaman makna dan ruh ibadah itu sendiri.
Teknologi harus diberi batas. Bukan semua yang bisa dilakukan, layak dilakukan. Kita boleh memanfaatkan AI untuk musik, konten, bahkan produksi karya sastra. Tapi untuk urusan wahyu dan ibadah, biarlah manusia yang tetap menjaga peran, dengan hati, adab, dan iman. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

