Jeritan Ibu Miskin di Balik Kasus Gizi Buruk di Nganjuk yang Luput dari Perhatian
kondisi ini diperparah dengan keterbatasan ekonomi yang membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
NGANJUK, SJP – Kabupaten Nganjuk terus mencatatkan berbagai prestasi dan penghargaan di berbagai bidang. Namun, di balik gemerlap prestasi tersebut, masih tersisa ironi permasalahan gizi buruk yang menghantui sebagian warganya, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin.
Halmitu dikuatkan oleh data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, yang menunjukkan bahwa masih terdapat jumlah kasus gizi buruk yang ada di Desa Kelutan Kecamatan Ngronggot.
Keluarga Bapak Habib Sholeh dan Ibu Sunarsi yang tinggal di Desa Kelutan Kecamatan Ngronggot harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anak mereka, Apri (7) mengalami gizi buruk.
Lebih memilukan lagi, kondisi ini diperparah dengan keterbatasan ekonomi yang membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Bapak Apri yang bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, seringkali uang yang dibawa pulang hanya cukup untuk makan sehari sekali.
Sementara itu, Sunarsi ibunda Apri, adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan untuk keluarga.
"Kulo pasrah mawon, terus pripon maleh kondisi kados ngoten, damel tumbas susu mawon ngeh kadang saget (Saya pasra, terus bagaimana lagi, jangankan untuk membeli susu untuk makan saja sudah sulit," ujar Ibu Sunarsi dengan nada putus asa saat ditemui di rumahnya, Selasa (4/11/2025).
Kondisi rumah mereka pun sangat sederhana, ada tulisan warna hijau rumah miskin, serta keterbatasan fasilitas sanitasi dan akses air bersih juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi kesehatan anak-anak.
Kondisi gizi buruk ini tidak hanya berdampak pada fisik anak-anak, tetapi juga pada kemampuan belajar dan aktivitas sehari-hari mereka. Pihak keluarga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah dan lembaga sosial untuk membantu meringankan beban mereka.
"Kami sangat berharap ada bantuan makanan bergizi, susu, atau vitamin untuk anak-anak kami. Kami juga membutuhkan bantuan untuk biaya pemeriksaan kesehatan dan pengobatan," tambahnya
Sementara itu, tetangga Bu Sunarsih yang tidak mau disebut namanya mengatakan, memang keluarga ini tergolong keluarga yang tidak mampu, apalagi masalah gizi yang terjadi sama anaknya
"Kasihan mas, memang mereka tergolong orang yang tidak mampu," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Apri (7), warga Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, menjalani perawatan medis karena setelah menderita gizi buruk selama setahun terakhir.
Dia sempat menjalani perawatan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kertosono, belakangan diinformasikan harus dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Kondisinya yang memprihatinkan baru terungkap setelah aktivis kesehatan melaporkan bahwa Apri, anak dari keluarga kurang mampu, mengalami gizi buruk parah dan nyaris luput dari perhatian pemerintah desa setempat.
Saat pertama kali datang ke rumah sakit, Apri dalam kondisi kritis. Berat badannya hanya 7 kilogram dengan tinggi 70 sentimeter, tubuhnya kurus, pertumbuhan terhambat, dan massa otot berkurang.
Menurut keterangan aktivis kesehatan Tanty Niswatin, yang turut memantau kondisi pasien melalui pihak rumah sakit, Apri datang dengan kondisi sangat lemah dan mengalami komplikasi serius.
“Kondisi pertama kali datang, pasien lemah, kejang, napas tidak teratur dan gula darah mencapai 513. Kondisinya parah, bisa dikatakan fatal,” ujar Tanty, Ahad (2/11/2025).
Tanty menyayangkan lambatnya penanganan terhadap kasus gizi buruk ini. Ia menilai, pemantauan tumbuh kembang balita seharusnya menjadi tanggung jawab rutin kader posyandu dan petugas kesehatan di wilayah desa.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Peran aktif dari pihak desa sangat penting untuk mendeteksi dini kasus gizi buruk pada balita,” tambahnya.
Selain faktor lingkungan, Tanty juga menyebut bahwa orang tua Apri memiliki keterbatasan mental dan kesulitan dalam merawat anaknya secara optimal. Kondisi itu memperparah kekurangan gizi yang dialami sang anak.
Sementara itu, Kepala Desa Kelutan Yuni Rohmawati mengakui adanya kelalaian dalam pemantauan kasus tersebut. Ia menyebut bahwa pihak desa sebenarnya telah memberikan bantuan, termasuk bantuan kereta dorong dari Dinas Sosial, namun belum mampu mengantisipasi kondisi Apri sejak awal.
“Kami akui memang ada kelalaian dalam kasus ini. Ke depan, kami akan lebih meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan agar tidak ada lagi kejadian seperti ini. Semua balita di desa kami harus mendapatkan pemantauan kesehatan yang optimal,” ujarnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

