Jelang Ajaran Baru, Penjualan Seragam Sekolah di Tulungagung Meningkat
Memasuki tahun ajaran baru, penjualan seragam sekolah di toko-toko seragam di Tulungagung mengalami peningkatan. Transaksi meningkat antara 20 hingga 30 persen dibanding tahun lalu. Seragam SD menjadi yang paling laris.
TULUNGAGUNG, SJP – Jelang ajaran baru tahun 2025, aktivitas pembelian seragam sekolah di Tulungagung, mulai menunjukkan peningkatan.
Sejak pertengahan Juni, sejumlah toko seragam di kawasan Jalan Basuki Rahmat mulai ramai dikunjungi warga, dengan peningkatan penjualan mencapai 20 hingga 30 persen dibanding hari-hari biasa.
Kenaikan ini dirasakan oleh Mohammad Fahrudin, salah seorang pedagang seragam sekolah di Tulungagung.
Ia menyebut, penjualannya tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Dalam sehari, ia bisa menjual antara 50 hingga 70 setel seragam, jauh meningkat dibanding hari biasa yang hanya berkisar 20 hingga 30 setel.
“Kondisi pasar hari ini alhamdulillah dikit-dikit tetap jalan, tapi lebih banyak yang beli di online. Tapi tahun ini dibanding tahun kemarin alhamdulillah penjualan lebih meningkat tahun ini. Peningkatan sekitar 20 hingga 30 persen,” ujarnya, Rabu (9/7/2025).
Menurut Fahrudin, seragam tingkat SD menjadi yang paling banyak diburu pembeli. Ia menjelaskan bahwa SD umumnya tidak menjual seragam.
Sementara itu, SMP biasanya hanya menjual kain seragam, yang dinilai kurang praktis bagi sebagian orang tua, sehingga orang tua lebih memilih membeli langsung di toko. Seragam SMA, menurutnya, menyumbang sekitar 10 persen dari total penjualan.
“Paling banyak itu seragam SD putih merah sama pramuka. Mulai ramai itu bulan Juni, itu orang-orang sudah mulai nyicil beli seragam. Diperkirakan ramai sampai bulan Agustus,” tambahnya.
Fahrudin mengaku harga seragam tetap stabil meski permintaan meningkat. Untuk SD, satu setel merah putih lengan pendek dijual Rp110 ribu, sedangkan yang panjang Rp140 ribu.
Seragam pramuka untuk SD hanya mengalami penambahan Rp10 ribu yakni Rp150 ribu. Seragam SMP putih biru dijual Rp160 ribu, dan pramuka Rp170 ribu.
Harga seragam SMA sedikit lebih tinggi, dengan tambahan sekitar Rp20 ribu per setel dibanding SMP. Sementara ongkos jahit mengalami sedikit kenaikan, dari Rp15 ribu menjadi Rp17 ribu.
Fahrudin menyebut, banyak konsumen yang tetap lebih memilih membeli langsung di toko dibanding online karena bisa melihat langsung kualitas barang. Meski harga toko sedikit lebih mahal, pembeli merasa lebih puas karena barang bisa dicoba dan dicek secara langsung.
“Penjualan seragam sekolah alhamdulillah, tahun ini meningkat tetapi banyak yang online itu sekarang, ya tetap banyak yang beli di online tapi orang tidak puas di online akhirnya beli di toko. Harganya lebih mahal sedikit, tapi kualitasnya lebih bagus, barangnya bisa dicek,” jelasnya.
Tidak hanya seragam, penjualan aksesoris sekolah seperti sabuk, dasi, dan topi juga mengalami peningkatan.
Sabuk dan topi untuk SMP masing-masing dijual sekitar Rp20 ribu, sedangkan topi SD dibanderol antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu. Sabuk SD dijual dengan harga antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
Fahrudin juga menyebut, pembeli tidak hanya berasal dari wilayah Tulungagung, tetapi juga datang dari daerah sekitar seperti Trenggalek, Blitar, dan Kediri. Ia memperkirakan penjualan seragam sekolah akan terus ramai hingga pertengahan Agustus.
Sementara itu, menurut salah seorang pembeli, Lia, membeli seragam sekolah yang sudah jadi lebih praktis dan langsung bisa dipakai. Selain itu harga juga lebih murah jika dibandingkan dengan menjahitkan sendiri.
"Ini tadi beli 3 setel seragam, merah putih sama seragam khas, sama asesoris," ujar Lia. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

