Dugaan Meluapnya Limbah Peternakan PT Bumi Kironggo Joyo Bondowoso, Kades Rejoagung Jelaskan Fakta Sebenarnya

Video viral limbah peternakan meluber ke jalan di Bondowoso, Kades Rejoagung sebut dipicu hujan deras dan tanggul belum selesai, bukan karena kegagalan pengolahan limbah.

30 Apr 2026 - 18:28
Dugaan Meluapnya Limbah Peternakan PT Bumi Kironggo Joyo Bondowoso, Kades Rejoagung Jelaskan Fakta Sebenarnya
Screenshot video melubernya material yang diduga limbah kotoran sapi di PT Bumi Kironggo Joyo Desa Rejoagung Kecamatan Sumberwringin Kabupaten Bondowoso (Foto : FB/Rzq/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Video yang memperlihatkan material kotoran sapi terbawa air hujan hingga meluber ke jalan raya dari area peternakan sapi perah PT Bumi Kironggo Joyo di Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin, viral di masyarakat, Rabu (29/4/2026) sore.

Dalam video tersebut disebutkan adanya bau menyengat dan kotoran sapi yang keluar dari pintu gerbang peternakan. Rekaman yang beredar di media sosial juga menunjukkan aliran air berwarna cokelat pekat meluap hingga melintasi jalan raya.

Setelah video itu beredar luas, muncul berbagai penilaian negatif dari masyarakat. Perusahaan dituding tidak mengelola limbah kotoran dan urine sapi dengan baik hingga meluap terbawa derasnya hujan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Rejoagung, Kusnadi, menjelaskan bahwa peristiwa itu bukan akibat kesalahan pengolahan limbah, melainkan dipicu hujan deras yang mengguyur area peternakan.

Kusnadi menegaskan, informasi yang menyebut penampungan limbah jebol tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, kejadian dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan infrastruktur peternakan yang belum rampung.

“Kalau dibilang penampungan limbah jebol itu kurang tepat. Kemarin hujan lebat terjadi di wilayah peternakan. Di dalam peternakan memang sedang dibuat tanggul, tetapi masih setengah jadi,” ujar Kusnadi saat dikonfirmasi via telepon, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, air dari wilayah atas yang diguyur hujan deras mengalir ke area peternakan dan membawa material hingga keluar.

Di kawasan tersebut terdapat lagon atau kolam penampungan limbah berupa kotoran dan urine sapi. Limbah itu dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk lahan pertanian seluas sekitar 38 hektare di area peternakan.

“Setiap hari limbah kotoran dan urine sapi dialirkan ke lahan pertanian untuk pupuk jagung dan rumput odot. Biasanya sudah dimanfaatkan sejak pagi hingga pukul 09.00,” jelasnya.

Namun pada hari kejadian, setelah pengaliran pupuk organik dilakukan pada pagi hari, hujan deras turun sekitar pukul 11.00 WIB. Kondisi tersebut menyebabkan volume air meningkat dan menggerus pupuk organik hingga keluar dari area peternakan.

“Peristiwa ini terjadi karena faktor alam dan tanggul yang belum selesai, sehingga saat hujan deras pupuk organik yang sudah disebarkan ikut terbawa air,” tegasnya.

Setelah hujan reda, pihak peternakan langsung melakukan pembersihan dan kondisi kembali aman.

“Itu hanya terjadi saat hujan lebat. Setelah reda, semuanya aman dan tidak mengganggu masyarakat sekitar,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow