Dibalik Kesuksesan Film “Jumbo”: Perjalanan 5 Tahun, 420 Kreator, dan Dua Anak Muda dari PCU
“Jumbo” tembus 5 juta penonton, film animasi lokal ini digarap 420 kreator, termasuk dua alumni Petra yang diam-diam jadi dalang di balik keajaiban layar lebar.
SURABAYA, SJP - Dunia perfilman Indonesia sedang mengalami momen bersejarah, bukan dari genre horor atau film dengan embel-embel "diangkat dari kisah nyata", tapi dari film animasi lokal dengan judul “JUMBO”, sebuah karya penuh warna, air mata, dan tawa yang berhasil merebut hati jutaan penonton lintas usia.
Sejak tayang perdana pada 31 Maret 2025, Jumbo terus merangkak naik dalam daftar film Indonesia terlaris.
Per 19 April 2025 kemarin, film itu resmi tembus 5 juta penonton, menjadikannya film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa.
Di bioskop, tawa dan isak tangis menyatu jadi pengalaman sinematik yang jarang terjadi untuk film lokal, apalagi di genre animasi.
Tapi di balik pencapaian layar lebarnya, tersimpan kisah tak kalah menarik dari balik layar. Lebih dari 420 kreator Indonesia terlibat dalam proses produksi yang memakan waktu hingga lima tahun. Dan dua di antaranya adalah alumni Petra Christian University (PCU) yang kini turut bersinar bersama kesuksesan Jumbo, Maximillian Serafino Suprapto dan Fandy Soegiarto.
Maximillian Serafino: Dari Magang Jadi Animator Utama
Lahir di Surabaya dan merupakan alumni International Program in Digital Media (IPDM) PCU angkatan 2020, Max, begitu ia disapa, tidak pernah menyangka akan terlibat dalam proyek sebesar itu.
Ketika bergabung di Ayena Studio Bandung saat magang, Max diberi tanggung jawab langsung dalam pipeline animasi Jumbo. Ia mengerjakan tiga tahapan krusial: Blocking, Animating, dan Clean-up.
"Senang sekali bisa ikut terlibat menjadi salah satu animator film Jumbo, yang bahkan mendapat sambutan hangat di masyarakat," ungkap Max saat dikonfirmasi pada Minggu (20/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa proses animasi dalam Jumbo memiliki empat tahap utama: Layouting, Blocking, Animating, dan Clean-up. Dalam tahap Layouting, animator menyusun lingkungan dan karakter berdasarkan storyboard.
Blocking menjadi tahap berikutnya, saat posisi dan gerakan awal karakter ditentukan untuk menyampaikan narasi dengan jelas, walau gerakannya masih patah-patah.
Di sinilah Max mulai menunjukkan tajinya. Ia bertugas memoles gerakan tersebut menjadi lebih mulus pada tahap Animating, sebelum akhirnya menyempurnakan animasi itu di tahap Clean-up, dengan menambahkan detail seperti animasi rambut, aksesori, hingga elemen visual kecil lainnya.
"Mengikuti standar animasi serta memiliki kecepatan untuk memenuhi target mingguan inilah yang menjadi tantangan," akunya.
"Kemampuan animasi 3D saya belum terlalu banyak saat itu, jadi butuh kerja lebih ekstra." imbuh Max.
Max sendiri resmi lulus dari IPDM PCU pada September 2024, namun karyanya sudah lebih dulu hadir di layar lebar, mengisi bagian-bagian penting dalam film animasi sepanjang 102 menit tersebut.
Fandy Soegiarto: Arsitek Visual Dunia Jumbo
Berbeda dari Max yang fokus pada animasi, Fandy Soegiarto, alumni DKV PCU angkatan 2006 berperan di tahap awal yang sangat menentukan: visual development.
Sejak akhir tahun 2020, Caravan Studio Jakarta Barat, tempat Fandy bekerja sejak 2020, dipercaya oleh rumah produksi Visinema untuk menangani seluruh visual guide Jumbo. Mulai dari character design, keyart, logo, set, hingga props design, semuanya digarap dari nol oleh tim yang dikoordinasi langsung oleh Fandy.
"Saya bertanggung jawab sebagai koordinator project yang sekaligus membantu dalam mendesain bersama tim, dan memastikan untuk menyelesaikan seluruh artwork yang diperlukan dengan baik," jelasnya.
Ia menyebut bahwa proses pengerjaan rampung di awal tahun 2023. Namun melihat hasilnya muncul di bioskop, dan diapresiasi oleh masyarakat luas, membuat semua kerja keras itu terbayar lunas.
"Puji syukur, rasanya bangga. Terlebih lagi, karya ini mendapat respons yang antusias dari masyarakat, khususnya penggiat seni dan desain dalam industri ilustrasi, animasi, dan film," ucapnya.
Fandy yang kini menetap di Jakarta, punya pesan untuk anak muda yang bercita-cita di dunia kreatif: “Teruslah berkarya dan cintailah apa yang dilakukan. Jangan patah semangat untuk menciptakan dunia yang menginspirasi dengan karya tangan kita.”
Lebih dari Sekadar Film Anak
Jumbo bukan cuma film anak-anak. Ia adalah bukti konkret bahwa ekosistem animasi Indonesia sedang tumbuh, meskipun banyak tantangan yang mengadang, termasuk ancaman dari kecerdasan buatan. Tapi Max, Fandy, dan ratusan kreator lokal lainnya membuktikan bahwa kerja manusia dengan empati, imajinasi, dan cinta masih belum tergantikan.
Lewat Jumbo, mereka tidak hanya menghadirkan cerita yang menyentuh, tapi juga membangun optimisme baru bagi industri kreatif di tanah air. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

