Cuaca Buruk Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Popoh Tulungagung, Harga Ikan Mulai Naik
Cuaca buruk dan gelombang tinggi melanda perairan Tulungagung. Nelayan memilih tidak melaut. Akibatnya, hasil tangkapan ikan menurun drastis dan memicu kenaikan harga.
TULUNGAGUNG, SJP — Cuaca buruk melanda perairan selatan Tulungagung sejak Senin (25/8/2025). Gelombang tinggi 3 hingga 4 meter disertai angin kencang membuat nelayan Popoh enggan melaut.
Seorang nelayan Teluk Popoh, Sutar (45), mengaku sudah tiga hari terakhir tidak turun ke laut. Menurutnya, ombak berbahaya sehingga nelayan lebih memilih menunggu cuaca reda.
“Ya, tiga hari ini cuaca agak buruk. Kalau di tengah laut ombak bisa sampai tiga sampai empat meter. Ada memang beberapa nelayan yang tetap berangkat, tapi banyak juga yang tidak,” ungkapnya, Sabtu (30/8/2025).
Tidak melautnya nelayan berdampak pada turunnya hasil tangkapan ikan di Popoh. Sutar menyebut, kondisi ini jika berlarut bisa memicu kenaikan harga ikan di pasaran.
“Kalau hasil tangkapan memang tergantung cuaca. Sekarang karena cuaca buruk, ikan yang didapat sedikit. Harga tongkol kecil bisa Rp15 ribu per kilo, tuna Rp18 ribu, dan layur Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilo,” jelasnya.
Meski sebagian besar nelayan memilih berdiam di darat, ada pula yang nekat melaut demi kebutuhan harian. Namun keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama bagi sebagian besar nelayan lainnya.
Syahbandar Pelabuhan Popoh, Arif Wahyudi, membenarkan cuaca buruk sudah terjadi sejak awal pekan. Pihaknya telah mengimbau nelayan agar tidak melaut sementara waktu.
“Cuaca buruk ini sudah mulai sejak Senin kemarin. Perkiraannya baru akan reda pada Ahad besok. Kami sudah menyampaikan kepada nelayan untuk tidak melakukan kegiatan penangkapan ikan sampai situasi benar-benar aman,” terang Arif.
Dengan kondisi ekstrem ini, aktivitas nelayan Popoh nyaris terhenti hampir sepekan. Warga berharap cuaca segera membaik agar pasokan ikan normal dan harga tidak melonjak tinggi. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

