Bukti Bung Karno Lahir di Jombang Kian Menguat, Dua Buku Jadi Rujukan

Kedua buku tersebut menjadi jembatan untuk menemukan asal-usul Bung Karno. Diyakini, Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, pada 6 Juni 1902.

20 Jun 2025 - 22:06
Bukti Bung Karno Lahir di Jombang Kian Menguat, Dua Buku Jadi Rujukan
Pemerhati sejarah Jombang Cak Arif menunjukkan dua buku rujukan untuk menunjukkan kelahiran Bung Karno di Jombang. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP—Kota kelahiran Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir Soekarno, tengah menjadi sorotan oleh sejumlah pegiat sejarah di Kabupaten Jombang. Hal itu mengonfirmasi bahwa Proklamator Kemerdekaan RI itu belum benar-benar pasti lahir di Surabaya.

Bahkan, buku sejarah berjudul “Candradimuka” karya Dian Sukarno dan buku “Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa” yang disusun oleh Prof. Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dan tim, mengisyaratkan Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Pemerhati sejarah, Arif Yulianto, yang akrab disapa Cak Arif, dalam buku “Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa” memuat dokumen penting berupa surat keputusan penugasan Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah dari Bung Karno, di Kecamatan Ploso pada awal abad ke-20.

"Dokumen itu menunjukkan Raden Soekeni bertugas di Ploso sejak 28 Desember 1901, sebelum pindah ke Sidoarjo pada November 1907. Ini memperkuat dugaan bahwa Bung Karno lahir di Ploso," ucap Cak Arif, Jumat (20/6/2025). 

Cak Arif menuturkan, dalam dokumen tulisan tangan Raden Soekeni Sosrodihardjo, dia mencatat tanggal lahir Soekarno, putranya, pada hari Jumat, tanggal 6 Juni 1902. 

“Ketika itu, mereka sedang tinggal di Ploso. Ini menjadi data kuat yang selama ini jarang disorot," tuturnya. 

Temuan literasi tentang tempat lahir Bung Karno dinilai berkontribusi terhadap pelurusan sejarah. Menurut Cak Arif, buku otobiografi “Penjambung Lidah Rakjat” karya Cindy Adams, terbit tahun 1966, telah mengabaikan keberadaan Ploso dan Sidoarjo dalam ulasan kisah masa kecil Bung Karno.

Buku “Candradimuka” karya Dian Sukarno turut dinilai telah memberikan warna baru dalam sejarah Bung Karno. Buku terbitan tahun 2013 itu mengulas peran besar Ndalem Pojok di Kediri, rumah keluarga angkat Bung Karno dalam perjalanan hidupnya.

“Ndalem Pojok bukan sekadar tempat singgah. Di sana ada kamar-kamar yang digunakan Bung Karno sejak bayi hingga dia menjadi presiden. Bahkan cerita soal siapa yang menggendong Bung Karno saat lahir dan siapa yang mengubur ari-arinya masih dituturkan oleh keturunan keluarga itu,” terangnya. 

Menurut penulis buku “Candradimuka”, sebagaimana diuraikan Cak Arif, Dian Sukarno membutuhkan waktu setidaknya delapan bulan untuk menulis naskah, dan butuh waktu 13 tahun untuk melakukan observasi serta mengumpulkan data. 

Dia merasa beruntung sempat mewawancarai RM. Kusumo Haryono, generasi ketiga Ndalem Pojok dan putra dari RM. Sayid Sumodihardjo, adik dari ayah angkat Bung Karno. Sosok tersebut merupakan sumber utama penulis Dian Sukarno. 

"Semua cerita yang ada di buku berasal dari hasil wawancara mendalam dengannya,” ungkap Dian sebagaimana ditirukan Cak Arif. 

Cak Arif mengatakan, dalam perjalanan pengumpulan data, Dian Sukarno harus menjelajah ke berbagai daerah. Mulai dari Bali hingga Jawa Barat. Dia bahkan disebut menjalin koneksi dengan sejumlah sejarawan besar, termasuk Prof. Peter Carey.

“Semakin terang bahwa Jombang bukan hanya tanah kelahiran tokoh besar, tapi juga lanskap sejarah yang penuh nilai. Kisah ini menegaskan bahwa setiap sudutnya punya cerita yang layak diungkap,” pungkas Cak Arif. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow