Budidaya Maggot, dari Pemakan Sampah Hingga Penghasil Rupiah

Maggot yang sudah berumur remaja bisa langsung dijual menjadi pakan hewan ternak dan jika dikeringkan, maggot remaja akan akan memiliki tekstur seperti ebi, cocok untuk dijadikan tepung, pellet hingga makanan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.

15 Nov 2023 - 16:00
Budidaya Maggot, dari Pemakan Sampah Hingga Penghasil Rupiah
Dedyk Arisandi dengan antusias memberi penjelasan didepan kotak yang berisi ribuan maggot hasil budidaya di Kampung Eduwisata Oase Songo (Ryan/SJP)

Surabaya, SJP - Mungkin kita sering menganggap lalat sebagai hewan yang sangat menggangu dan bahkan merugikan. Namun siapa sangka, larva dari lalat atau maggot (belatung) ternyata memiliki banyak manfaat dan berpotensi untuk dibudidayakan.

Melalui pembudidayaan maggot, sampah organik bisa dimakan habis olehnya tanpa sisa. Selain sebagai pemakan sampah yang rakus, maggot juga bisa dijual menjadi berbagai produk yang bisa hasilkan pundi-pundi rupiah.

Maggot yang sudah berumur remaja bisa langsung dijual menjadi pakan hewan ternak. Dan jika dikeringkan, maggot remaja akan akan memiliki tekstur seperti ebi, cocok untuk dijadikan tepung, pellet hingga makanan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.

Tidak berhenti disitu, bahkan bangkai sisa dari maggot yang sudah menjadi lalat akan menghasilkan bekas maggot (Kasgot) yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Gimana? sangat bermanfaat bukan?

Dedyk Arisandi, seorang warga yang juga merupakan teknisi di Kampung Edukasi Wisata Oase Songo, Jalan Simomulyo Baru, RT 9 RW 3, Kelurahan Baru, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, menceritakan bagaimana budidaya maggot bisa membantu mengurangi sampah organik di kampungnya.

"Kami sudah mulai budidayakan maggot sejak tahun 2015 dengan tujuan untuk penataan lingkungan. Setelah diterapkan, ternyata pengaruhnya sangat signifikan yang mana sampah organik dari masyarakat dilahap habis oleh maggot," ucapnya pada Rabu (15/11/2023).

Budidaya maggot dengan jenis larva lalat Black Soldier Fly (BSF) ini sendiri merupakan hasil kerjasama antara Kampung Oase Songo dengan Kementrian Pertanian (Kementan) melalui pembinaan dari Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan). 

"Awalnya Polbangtan melihat bahwa pengelolaan sampah organik disini belun tertata, dan karena misi kita sama-sama ingin mengelola sampah organik, akhirnya munculah gagasan dan ide untuk memanfaatkan maggot," ungkap Dedyk kepada suarajatimpost.com.

Polbangtan sempat datang dan melakukan pembinaan mengenai program budidaya maggot. Sampah organik seperti sisa nasi dan sayur merupakan makanan favorit dari maggot, jadi warga dihimbau untuk tidak langsung membuang sampah tersebut.

"Sampah organik tersebut akan kami kumpulkan dari setiap rumah para warga, kemudian sampah tersebut dihaluskan menjadi seperti bubur menggunakan mesin pencacah sampah untuk nantinya diberikan ke maggot sebagai pakan," jelas Dedyk.

Terlihat tempat sampah di area Kampung Eduwisata Oase Songo memang tidak ditemui lalat, hal tersebut dikarenakan sampah organik yang menimbulkan bau sudah diminimalisir untuk menjadi makanan Maggot.

"Budidaya maggot juga membantu program Zero Waste, karena dalam proses perputarannya juga tidak menghasilkan sisa sampah sama sekali," jelas Dedyk.

Pengolahan sampah sendiri adalah hal yang sangat penting karena kondisinya yang sudah mengkhawatirkan. Dedyk mengungkapkan bahwa di Kota Surabaya setidaknya ada 2.000 ton sampah di tiap harinya. 

"Baru 1.200 ton yang dikelola oleh Pemerintah Kota, lalu selebihnya siapa yang bertanggung jawab? disitulah peran kita untuk membantu dan mengurangi beban pemerintah dalam mengelola sampah," tuturnya.

Dedyk memiliki harapan bahwa budidaya maggot ini bisa solusi permasalahan lingkungan, selain itu berbagai produk yang dihasilkan juga bisa menjadi pemasukan tambahana untuk seluruh warga khususnya di Kampung Eduwisata Oase Songo Surabaya. (**)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow