Benteng Van Den Bosch di Ngawi, Saksi Sejarah yang Masih Bertahan
Benteng Van Den Bosch di Ngawi menjadi saksi sejarah yang masih bertahan hingga kini, menyimpan jejak masa lalu melalui bentuk bangunan dan ruangnya.
NGAWI, SJP - Benteng tua itu tak sekadar berdiri sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga membuka pintu bagi pengalaman wisata yang sarat makna. Benteng Van Den Bosch atau Benteng Pendem di Kabupaten Ngawi kini menjadi destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan arsitektur kolonial.
Dikutip dari ngawikab.go.id, Benteng Van Den Boosch terletak di kelurahan Pelem, Kecamatan/Kabupaten Ngawi. Benteng ini dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi. Sehingga, terlihat dari luar terpendam. Karena itu, jika lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem.
Di kawasan seluas sekitar 4 hektar ini, pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong bangunan yang menyimpan jejak masa lalu. Kolom-kolom bata berbentuk silinder, bekas pondasi, hingga pintu dan jendela bergaya lama menghadirkan pengalaman visual sekaligus reflektif. Setiap sudutnya seperti potongan cerita yang belum selesai, mengajak siapa pun untuk membayangkan kehidupan di masa lampau.
Tak hanya itu, benteng ini juga menyimpan nilai edukasi yang kuat. Wisatawan dapat belajar tentang teknik konstruksi zaman kolonial, bagaimana bata disusun melingkar mengikuti bentuk kolom, hingga cara bangunan tua diperkuat tanpa merusak struktur aslinya. Sentuhan pemugaran yang dilakukan turut membantu menghidupkan kembali bentuk bangunan, sehingga lebih mudah dipahami oleh generasi sekarang.
Lebih jauh, kunjungan ke Benteng Pendem memberi ruang untuk merenungkan pentingnya menjaga warisan budaya. Bangunan ini mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dipahami dan dirawat bersama. Dari sini, muncul kesadaran bahwa setiap situs bersejarah memiliki nilai penting yang bisa menjadi sumber pembelajaran lintas generasi.
Dengan potensi tersebut, Benteng Van Den Bosch tidak hanya layak dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan refleksi. Tempat ini membuktikan bahwa wisata bukan sekadar hiburan, melainkan perjalanan memahami waktu, identitas, dan warisan budaya. (**)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

