Belajar dari Alam: Pengalaman Multisensori Murid Inklusi SD Cikal di KBA Kampoeng Oase Ondomohen
Belajar multisensori di alam terbuka, sepuluh siswa inklusi SD Cikal Surabaya merasakan pengalaman unik mengelola sampah dan berinteraksi langsung dengan ekosistem Kampung Oase Ondomohen.
SURABAYA, SJP - Di tengah suasana teduh dan rindang di KBA Kampoeng Oase Ondomohen, Surabaya, tawa riang terdengar dari sekelompok anak inklusi SD Cikal Surabaya. Mereka berlarian kecil di antara kolam ikan, menatap sayur-sayuran yang tumbuh dengan metode urban farming, dan sesekali menutup hidung saat mencium aroma khas area pengolahan sampah organik.
Semua itu menjadi bagian dari pengalaman belajar multisensori, sebuah metode belajar dengan memanfaatkan seluruh pancaindra yang menjadi salah satu pendekatan paling efektif untuk perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan itu merupakan bagian dari Field Trip (karyawisata) murid kelas 3, 4, dan 5 Pendidikan Inklusi TK-SD Cikal Surabaya. Dengan lima guru pendamping, sepuluh siswa inklusi mengikuti sesi belajar langsung tentang pengelolaan sampah dan lingkungan di KBA Kampoeng Oase Ondomohen.
Sejak pagi, anak-anak diajak menjelajahi berbagai area edukatif di kampung eduwisata yang terletak di jantung Kota Surabaya itu. Mereka mengenal berbagai jenis tanaman, memberi makan ikan, hingga menyaksikan budidaya kepiting dan lobster.
Bagi anak inklusi, pengalaman tersebut tidak sekadar belajar tentang ekosistem, tetapi juga melatih motorik, keberanian, dan interaksi sosial. Sirakh Dini Lestari, salah satu guru pendamping dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan karyawisata itu sejalan dengan misi Cikal untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
"Anak-anak belajar langsung tentang bagaimana memilah sampah dan daur ulang. Kegiatan ini selaras dengan misi sekolah Cikal, yaitu harus berdampak ke lingkungan," ujar Dini, Minggu (26/10/2025).
Meski ini bukan pertama kalinya SD Cikal mengunjungi KBA Kampoeng Oase Ondomohen, namun yang berbeda saat ini adalah seluruh peserta merupakan murid inklusi dari tiga jenjang berbeda. Para murid juga dibekali dengan modul untuk dikerjakan selama kegiatan.
"Jadi selain berkeliling, mereka juga akan mengisi modul. Namun modulnya disesuaikan dengan anak inklusi, jadi didalamnya yang mereka tulis seperti emosi mereka selama berkegiatan, atau mencatat apa saja yang mereka lihat dan lakukan," tutur Dini.
Meski kegiatan berjalan dengan penuh canda dan tawa, Dini mengungkapkan bahwa tantangan itu tetap ada. Beberapa siswa inklusi sangat sensitif terhadap bau dari area pengolahan magot. Namun, hal itu tidak mengurangi antusiasme mereka untuk belajar.
"Memang ada anak yang mengeluh karena sensitif terhadap bau. Tapi secara umum mereka antusias. Tempat ini sangat edukatif dan visual, jadi anak-anak cepat paham," imbuhnya.
Bukan hanya bagi peserta, kegiatan itu juga menjadi pengalaman baru bagi warga KBA Kampoeng Oase Ondomohen sendiri. Ketua RT 8 RW 7 Ondomohen Magersari, Endang Sri Wulansari, mengatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka menerima kunjungan dari anak-anak inklusi.
"Ini pengalaman khusus bagi kami, karena baru pertama kali kedatangan siswa inklusi. Jadi cara penyampaian materinya kami buat lebih pelan dan hati-hati," ujarnya.
Endang menceritakan, selain melihat-lihat, banyak kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak. Salah satu kegiatan adalah belajar membuat pot dari botol plastik.
Namun karena alasan keamanan, mereka tidak diperbolehkan menggunakan gunting. Sebagai gantinya, para peserta diajak untuk mewarnai pot dengan cat warna-warni.
"Kami tidak izinkan mereka pegang gunting karena itu benda tajam, tadi juga sudah koordinasi dengan para guru pendamping. Jadi cukup mewarnai pot. Tapi mereka senang sekali," tutur Endang.
Selain melihat sayur, ada juga sesi mengenal hewan seperti ikan, lobster dan kepiting yang sengaja dibudidayakan di KBA Kampoeng Oase Ondomohen. Meski tidak semua anak berani memegangnya, namun beberapa menunjukkan keberanian yang luar biasa.
"Ada yang takut, tapi ada juga yang berani memegang lobster. Jadi kita sesuaikan kegiatannya agar mereka tetap nyaman," tambahnya.
Endang mengungkapkan bahwa beberapa anak yang terganggu dengan bau itu terjadi saat melihat budidaya maggot. Bahkan beberapa anak sempat ketakutan saat melihat lalat di area itu. Namun setelah dijelaskan bahwa itu bagian dari kehidupan di alam terbuka, mereka mulai memahami.
"Kami jelaskan bahwa di luar ruangan itu pasti ada lalat atau serangga. Kita hidup berdampingan dengan alam," ucap Endang, mengulangi perkataannya kepada para peserta.
Sebagai bentuk apresiasi, warga KBA Kampung Oase Ondomohen juga memberikan oleh-oleh buatan tangan sendiri kepada anak-anak mulai dari kotak pensil hingga tas mini dengan karakter warna cerah.
"Semua oleh-oleh itu buatan warga. Kami ingin mereka pulang dengan kenangan positif," katanya.
Menjadi Laboratorium Hidup
Local Champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, Adi Candra, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi yang bermakna antara sekolah dan masyarakat. Ia menyambut positif pendekatan inklusif yang dibawa oleh SD Cikal.
"Walaupun pesertanya sedikit, ini spesial karena semuanya anak inklusi. Kami menyiapkan treatment khusus agar mereka bisa menikmati belajar di alam terbuka," ujarnya.
Adi menjelaskan, lingkungan belajar seperti itu sangat efektif untuk memberi pengalaman multisensori, anak dapat belajar dengan melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan secara langsung.
"Memberi makan ikan saja bisa jadi interaksi menarik bagi mereka. Itu melatih kepekaan dan adaptasi terhadap lingkungan sekitar," katanya.
Ia menekankan bahwa kegiatan semacam itu bukan hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi warga kampung yang ikut berperan aktif menciptakan suasana belajar yang ramah dan inklusif.
"Anak-anak belajar beradaptasi dengan lingkungan kampung, belajar bahwa hidup berdampingan dengan masyarakat itu penting," tambahnya.
Adi menyebut, KBA Kampoeng Oase Ondomohen kini tengah dikembangkan sebagai laboratorium hidup, tempat belajar terbuka untuk berbagai kelompok dan lembaga pendidikan.
"Lokasi ini akan jadi laboratorium hidup. Di sini semua bisa belajar dan berinovasi, entah itu tentang sampah, lingkungan, atau nilai-nilai kebersamaan," tutupnya.
Kegiatan field trip ini tidak hanya menjadi ajang bermain dan belajar, tetapi juga memperkuat nilai empati, kemandirian, dan keberanian bagi siswa inklusi.
Kegiatan itu juga didukung penuh oleh HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group , PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur , Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

