Apel Batu Bertahan di Titik Kritis

Dengan sisa lahan yang terus tergerus dan produksi yang menurun, apel Batu kini bertahan di ambang kritis. Tanpa langkah konkret untuk melindungi lahan, menekan alih fungsi, dan meningkatkan kesejahteraan petani, identitas “Kota Apel” berisiko berubah dari realitas menjadi sekadar simbol historis.

01 May 2026 - 20:52
Apel Batu Bertahan di Titik Kritis
Pemkot Batu saat melakukan peninjauan lahan apel (Prokopim/SJP)

KOTA BATU, SJP - Eksistensi apel sebagai identitas utama Kota Batu kini benar-benar berada di fase genting. Data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) mencatat, luas lahan perkebunan apel yang tersisa hanya sekitar 740,07 hektare hingga akhir 2024 menyusut drastis dari kejayaannya pada era 1980-an yang mencapai sekitar 3.000 hektare.

Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto pada Jumat (1/5/2026) menguraikan bahwa penyusutan ini bukan sekadar tren jangka panjang, tetapi berlangsung agresif dalam dua tahun terakhir. Dari 1.092 hektare pada 2022, turun menjadi 823,33 hektare pada 2023, lalu kembali menyusut hingga tinggal 740,07 hektare.

"Artinya, lebih dari 350 hektare kebun apel hilang dalam waktu singkat, mempersempit ruang hidup komoditas yang selama ini menjadi ikon daerah," tegasnya.

Di tengah penyusutan tersebut, kantong-kantong terakhir kebun apel kini terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Bumiaji. Desa Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, dan Desa Bumiaji menjadi benteng terakhir yang masih mempertahankan varietas unggulan seperti Manalagi dan Anna. Namun, keberlangsungan kawasan ini pun tidak sepenuhnya aman dari tekanan alih fungsi lahan dan penurunan produktivitas.

Politisi Gerindra tersebut juga menegaskan bahwa apel bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan identitas kolektif daerah. Ia mengingatkan, jika tidak ada intervensi serius, status “Kota Apel” berpotensi kehilangan makna dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Tekanan utama datang dari masifnya alih fungsi lahan menjadi kawasan wisata dan permukiman. Di sisi lain, perubahan iklim dan menurunnya kualitas tanah membuat hasil panen tidak lagi optimal. Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya produksi, mulai dari pupuk hingga tenaga kerja, yang membuat petani beralih ke komoditas lain yang lebih cepat menghasilkan," imbuhnya.

Dampaknya sudah terlihat pada sisi produksi. Sepanjang 2024, produksi apel Kota Batu hanya mencapai sekitar 140.285 kuintal dimana angka tersebut mencerminkan penurunan signifikan dibandingkan capaian pada masa lalu. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow