Warga Ijen Bondowoso Tolak Relokasi Lahan, Berharap Kerja Sama Tanam Kopi dengan PTPN

Warga Ijen Bondowoso menolak relokasi lahan pengembangan kopi PTPN I Regional 5. Mereka mengusulkan kerja sama tanam kopi sebagai solusi, namun PTPN tetap berkomitmen melanjutkan program coffee development seluas 506 hektare di Kecamatan Ijen.

15 Oct 2025 - 18:39
Warga Ijen Bondowoso Tolak Relokasi Lahan, Berharap Kerja Sama Tanam Kopi dengan PTPN
Pembahasan relokasi oleh DPR RI Nashim Khan, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid bersama Wakil Bupati As'ad Yahya Syafi'i dengan jajaran Forkopimda, PTPN I Regional 5 serta tokoh masyarakat Kecamatan Ijen di aula Kejaksaan Negeri Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Suara masyarakat lereng Ijen kembali bergema sore itu di lobi Kejaksaan Negeri Kabupaten Bondowoso, Rabu (15/10/2025), usai pertemuan dengan anggota DPR RI, Forkopimda, dan PTPN I Regional 5.

Pertemuan yang dijadwalkan sejak pukul 12.30 WIB hingga 17.00 WIB tersebut membahas rencana pengembangan coffee development yang dilakukan oleh PTPN di Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso.

Sayangnya, pertemuan itu belum membuahkan hasil dan kesepakatan bersama antara warga dan pihak PTPN. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sumber Rejo, Mustafa Hendra Hermawan.

Ia menegaskan aspirasi warga bahwa hingga saat ini masyarakat ingin tetap mengolah tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka, bukan direlokasi.

“Belum ada kesepakatan yang rampung sampai sore ini karena kemauan masyarakat dengan PTPN masih belum bertemu. Kami berharap ada kerja sama tanam kopi dengan PTPN agar semua pihak bisa diuntungkan,” ungkapnya.

Bagi warga Sumber Rejo, kopi bukan sekadar tanaman, melainkan napas kehidupan. Di tengah hamparan tanah perbukitan yang subur, kopi menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

Mustafa menilai, relokasi lahan bukanlah solusi. Selain belum ada lahan pengganti yang pasti, wilayah yang ditawarkan dinilai tidak layak untuk ditanami hortikultura.

“Kalaupun ada lahan pengganti, kondisinya jauh, berbatu, bahkan ada yang miring sampai 80 derajat. Itu tidak memungkinkan, malah berpotensi longsor,” tuturnya.

Menurut data desa, sekitar 195 hektare lahan di Sumber Rejo rencananya akan direlokasi. Namun masyarakat menolak dan mengusulkan konsep kerja sama tanam kopi seperti yang diterapkan di kawasan Perhutani.

“Dengan kerja sama itu, PTPN tetap bisa menanam dan memanen kopi, sementara masyarakat juga mendapat penghasilan. Ini bisa menjadi win-win solution yang menyejahterakan semua pihak,” kata Mustafa penuh harap.

Bagi warga, perjuangan mempertahankan tanah bukan sekadar soal kepemilikan lahan, tetapi tentang menjaga warisan, harapan, dan masa depan anak cucu mereka di tanah Ijen yang mereka cintai.

Sementara itu, Bambang Trianto, Manager Kebun Blawan PTPN I Regional 5, menyampaikan bahwa PTPN tetap berkomitmen menjalankan pengembangan tanaman kopi seluas 506 hektare.

“Proyeksi kita terkait 506 hektare itu untuk pengembangan coffee development harus tetap berjalan. Tentunya dengan dinamika yang ada, 506 hektare itu bisa berjalan, apalagi kalau menjadi kepentingan masyarakat. Prinsipnya tetap bisa berjalan, itu yang utama,” ujarnya.

Terkait progres, tahun ini PTPN tengah membuka lahan seluas 200 hektare dan sudah dilakukan sosialisasi. Sekitar 125 hektare saat ini sedang dalam proses pelaksanaan, meskipun masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan.

“Sisanya, sekitar 75 hektare, tadi kita bagi hingga zona enam. Harapannya, dengan adanya dua objek itu, target 200 hektare tahun ini bisa selesai atau clear,” tandasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow