Siaga Hantavirus, Pemkot Surabaya Imbau Pelancong Lengkapi Vaksin sebelum Bepergian ke Luar Negeri
Vaksin yang dimaksud bukan vaksin khusus hantavirus. Dinkes Surabaya menjelaskan, vaksinasi yang dianjurkan untuk pelancong adalah vaksin meningitis, influenza, dan pneumonia sebagai perlindungan tambahan terhadap penyakit infeksi, khususnya saat melakukan perjalanan internasional.
SURABAYA, SJP - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus. Meski hingga kini belum ditemukan kasus positif di Kota Pahlawan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya mulai menyiapkan langkah antisipasi, termasuk mengimbau warga yang hendak bepergian ke luar negeri agar melengkapi vaksinasi sebelum berangkat.
Langkah itu dilakukan di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap hantavirus yang penularannya berasal dari tikus atau rodensia. Selain memperkuat pengawasan, Pemkot Surabaya juga meminta masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat agar risiko penyakit menular dapat ditekan.
Namun, vaksin yang dimaksud bukan vaksin khusus hantavirus. Kepala Dinkes Surabaya dr. Billy Daniel Messakh menjelaskan, vaksinasi yang dianjurkan untuk pelancong adalah vaksin meningitis, influenza, dan pneumonia sebagai perlindungan tambahan terhadap penyakit infeksi, khususnya saat melakukan perjalanan internasional.
"Untuk warga yang bepergian ke luar negeri, vaksinnya harus dilengkapi. Itu penting sebagai perlindungan," papar Billy, saat dikonfirmasi pada Sabtu (9/5/2026).
Hantavirus sendiri merupakan penyakit yang sebenarnya sudah lama dikenal di dunia medis. Virus ini menyebar melalui tikus, terutama dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup manusia.
Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh lemas. Pada kondisi tertentu, infeksi bisa berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
Di Indonesia, kasus hantavirus tergolong jarang dilaporkan. Namun, sejumlah penelitian pernah menemukan paparan virus tersebut pada tikus maupun manusia di beberapa wilayah, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di daerah dengan populasi tikus tinggi.
Billy menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena hingga kini belum ada kasus yang terkonfirmasi di Surabaya. Meski begitu, kewaspadaan dini tetap dilakukan agar potensi penularan bisa dicegah sejak awal.
"Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Sudah lama ada dan penularannya dari tikus. Sampai sekarang di Surabaya juga belum ada kasus yang terbukti positif," katanya.
Menurut Billy, tantangan terbesar hantavirus adalah gejalanya yang sering dianggap sebagai flu biasa atau common cold. Karena itu, Dinkes Surabaya meminta masyarakat lebih peka terhadap kondisi kesehatan tubuh, terutama jika mengalami demam atau gangguan pernapasan setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko tinggi terpapar tikus.
"Kalau ada yang terdeteksi suhu tubuhnya di atas normal, tentu harus segera dipantau atau dilakukan langkah pengawasan lebih lanjut," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Surabaya juga mendorong agar pemeriksaan suhu tubuh menggunakan alat pemindai elektronik kembali diaktifkan di pintu masuk transportasi publik. Langkah ini dipandang penting sebagai skrining awal untuk mendeteksi potensi penyakit menular pada pelaku perjalanan.
Selain itu, masyarakat juga diimbau kembali disiplin menjalankan pola hidup sehat, mulai dari menjaga asupan makanan bergizi, istirahat cukup, hingga rutin berolahraga. Penggunaan masker di ruang tertutup maupun keramaian juga dianjurkan sebagai bentuk perlindungan tambahan.
"Yang paling penting masyarakat tetap menjaga daya tahan tubuh. Olahraga rutin, makan bergizi, dan kalau berada di keramaian atau ruang tertutup sebaiknya menggunakan masker," tutur Billy.
Ia menambahkan, sejumlah negara di Eropa juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular dengan penggunaan alat pelindung diri dan pengawasan kesehatan yang lebih ketat. Karena itu, Surabaya juga mulai menyiapkan langkah pencegahan sambil menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat.
Saat ini, Pemkot Surabaya masih menunggu panduan teknis dari Kementerian Kesehatan terkait mekanisme screening hantavirus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin disebut telah meminta panduan resmi kepada WHO untuk menentukan prosedur pengawasan dan penanganan yang tepat.
"Kami masih menunggu guidance (arahan) dari Kementerian Kesehatan terkait screening. Namun Pemkot Surabaya tetap aktif berkoordinasi dan menyiapkan langkah antisipasi," pungkas Billy. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

