Relawan SPPG di Blitar Gelar Aksi, Minta Program MBG Tidak Dihentikan

Aksi tersebut diikuti oleh berbagai elemen yang terlibat langsung dalam Program MBG di wilayah Kota dan Kabupaten Blitar, mulai dari relawan, pengelola dapur, mitra investasi, hingga para pemasok (supplier) bahan baku lokal.

27 Jun 2026 - 11:55
Relawan SPPG di Blitar Gelar Aksi, Minta Program MBG Tidak Dihentikan
Ratusan relawan SPPG saat menyuarakan dukungan program MBG. (Foto : Ninda Kinanti/SJP)

KOTA BLITAR, SJP–Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Peta Blitar Raya menggelar aksi apel akbar di depan Aloon-Aloon Kota Blitar pada Sabtu (27/6/2026). 

Aksi ini disrbut merupakan bentuk penegasan komitmen dan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah.

Apel akbar tersebut diikuti oleh berbagai elemen yang terlibat langsung dalam Program MBG di wilayah Kota dan Kabupaten Blitar, mulai dari relawan, pengelola dapur, mitra investasi, hingga para pemasok (supplier) bahan baku lokal.

Koordinator Aliansi SPPG Peta Blitar Raya, Bambang Chaspo, menyatakan bahwa Program MBG bukan sekadar program pemenuhan nutrisi anak sekolah, melainkan motor penggerak ekonomi daerah yang sangat strategis.

"Program MBG ini sangat luar biasa. Selain memberikan makanan bergizi kepada anak-anak demi menciptakan generasi yang sehat dan kuat, program ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memberdayakan pelaku usaha lokal," ujar Bambang di sela-sela kegiatan, Sabtu (27/6/2026).

Bambang memaparkan data perputaran ekonomi dan serapan tenaga kerja yang terjadi di Blitar Raya. 

Menurut Bambang, satu dapur SPPG rata-rata mempekerjakan 47 hingga 50 orang. Dengan total sekitar 160 dapur yang kini beroperasi di Blitar Raya, program ini berhasil menyerap antara 5.000 hingga 7.000 tenaga kerja lokal.

Setiap dapur disrbutnya bekerja sama dengan rata-rata 15 supplier. Program ini menyerap hasil panen dan produksi dari petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, hingga pelaku UMKM.

Sebagai gambaran, kata dia, satu dapur SPPG membutuhkan 1 hingga 2 kuintal beras per hari, belum termasuk kebutuhan lauk-pauk, sayuran, dan telur yang seluruhnya dibeli dari masyarakat setempat.

Dalam aksi tersebut, Aliansi SPPG Peta Blitar Raya juga menyatakan sikap resmi terkait kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghentikan sementara operasional Program MBG selama masa libur sekolah. Kebijakan ini diambil pemerintah untuk keperluan efisiensi dan evaluasi menyeluruh.

Meskipun kebijakan tersebut membuat ribuan relawan dapur harus diliburkan sementara, pihak aliansi mengaku tidak mempermasalahkannya demi perbaikan kualitas program di masa mendatang.

"Kalau di Blitar kami tidak ada masalah. Kami mengikuti kebijakan pemerintah untuk melakukan efisiensi dan evaluasi. Kami tetap mendukung penuh keberlanjutan program ini," tegas Bambang.

Selama masa jeda operasional ini, aktivitas dapur memang dihentikan, namun sejumlah tenaga inti, seperti kepala SPPG, ahli gizi, dan tenaga administrasi tetap bertugas untuk menyelesaikan laporan dan persiapan teknis.

Berdasarkan data sebaran, saat ini terdapat 30 dapur SPPG yang beroperasi di wilayah Kota Blitar dan 129 dapur di wilayah Kabupaten Blitar.

Bambang meluruskan bahwa dapur-dapur MBG yang berdiri saat ini bukanlah milik investor kapital besar, melainkan hasil kolaborasi dan gotong royong masyarakat. 

Nilai investasi untuk membangun satu dapur SPPG berkisar antara Rp1 miliar hingga Rp3 milar, yang dihimpun secara swadaya oleh para mitra lokal.

"Ini adalah bentuk nyata gotong royong masyarakat. Para mitra berinvestasi, menyerap tenaga kerja, dan menghidupkan supplier lokal. Karena dampak positifnya yang sangat besar bagi gizi anak dan dompet masyarakat, kami berharap Pemerintah pusat terus melanjutkan Program MBG ini," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow