Romy Soekarno Dorong Blitar Jadi “Living Laboratory” Demokrasi Digital Nasional
Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong Blitar menjadi living laboratory demokrasi digital nasional. Ini disampaikan Romy saat menyampaikan materi pada kegiatan literasi demokrasi sebagai fondasi pemilu demokratis yang digelar Bawaslu Kabupaten Blitar
BLITAR, SJP - Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong Blitar menjadi "living laboratory" Demokrasi Digital Nasional.
Hal ini ia katakan saat menyampaikan materi pada kegiatan Penguatan Kelembagaan bertema "Literasi Demokrasi sebagai Fondasi Pemilu yang Demokratis" yang digelar Bawaslu Kabupaten Blitar, pada Jumat (26/9/2025).
Romy menjelaskan bahwa Blitar memiliki potensi besar menjadi "living laboratory" Demokrasi Digital Nasional. Sehingga, ia menekankan pentingnya pendidikan pemilih agar warga semakin melek politik, mendorong ekosistem pengawasan yang transparan untuk memangkas praktik politik uang, serta mengusulkan e-voting berbasis blockchain agar setiap suara terhitung jujur dan tak bisa dimanipulasi.
"Blitar punya potensi untuk menjadi living laboratory demokrasi nasional. Penting sekali menekankan literasi demokrasi kepada masyarakat, artinya bukan hanya sekadar jargon, melainkan fondasi penting untuk memastikan pemilu yang adil, transparan, dan partisipatif," jelasnya, Jumat (27/9/2025).
Pada kesempatan tersebut, cucu Presiden Pertama RI Ir Soekarno juga mengingatkan mengenai adanya sinyal krisis legitimasi pada Pemilu 2024 lalu. Yakni berupa anomali seperti intimidasi, scam politik, 2.882 konten hoaks, hingga 4 juta pemilih yang tidak bisa menggunakan hak pilih karena belum memiliki e-KTP.
Dia menilai hal ini, berimbas pada turunnya indeks kepercayaan publik dari 94 persen menjadi 76 persen.
"Dalam konteks inilah, Bawaslu tidak hanya hadir sebagai watchdog, tetapi juga sebagai katalis tata kelola pemilu yang integratif dan partisipatif. Blitar, dengan modal sosial dan semangat inovasinya, bisa jadi prototipe demokrasi masa depan," tandasnya.
Sementara itu, anggota Bawaslu Provinsi Jawa Timur Dewita Hayu Shinta menambahkan, kegiatan literasi demokrasi ini dilakukan secara masif oleh Bawaslu bersama Komisi II DPR RI, sebagai bagian dari strategi membangun kesadaran politik warga.
Ia menegaskan, meskipun pesta demokrasi tahun 2024 sudah berlalu, pihaknya memastikan perannya tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga penggerak literasi politik yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam mengawal demokrasi.
"Kami hadir bukan hanya mengawasi, tetapi juga mendidik publik agar demokrasi tumbuh sehat," imbuhnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

