Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong, Tradisi yang Menjaga Ingatan dan Harapan Petani Trenggalek

Di tengah perkembangan zaman, tradisi larung kepala kerbau tetap menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya mempertahankan nilai budaya dan sejarah lokal, ritual ini juga berkembang menjadi wisata budaya.

08 May 2026 - 20:36
Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong, Tradisi yang Menjaga Ingatan dan Harapan Petani Trenggalek
Sejumlah warga bersiap berebut kepala kerbau yang dilarung di Dam Bagong, Trenggalek. (Beny/SJP)

TRENGGALEK, SJP - Suasana berbeda tampak di kawasan Dam Bagong, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Jumat (8/5/2026) pagi. Ratusan warga memadati area bendungan untuk menyaksikan tradisi larung kepala kerbau, sebuah ritual turun-temurun yang hingga kini masih dijaga masyarakat Trenggalek.

Tradisi adat tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Menak Sopal, tokoh yang dipercaya berjasa dalam pembangunan Dam Bagong. Bendungan itu selama puluhan tahun menjadi sumber pengairan penting bagi lahan pertanian di wilayah Trenggalek dan Pogalan.

Rangkaian acara berlangsung selama dua hari. Prosesi diawali dengan kirab kerbau mengelilingi Kelurahan Ngantru sebelum singgah di Pendopo Kabupaten Trenggalek. Pada malam harinya, masyarakat mengikuti jamasan pusaka, penyembelihan kerbau, hingga pagelaran wayang kulit Murwakala bertajuk Bersih Dam Bagong.

Puncak tradisi digelar pada Jumat pagi melalui prosesi larung kepala kerbau di Dam Bagong. Sejumlah bagian kerbau seperti kepala, kulit, dan tulang diarak menuju lokasi bendungan untuk kemudian dilarung ke aliran air.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memimpin langsung prosesi tersebut. Ia mengawali ritual dengan melempar potongan kaki kerbau ke aliran Dam Bagong, disusul bagian tubuh lainnya. Suasana semakin riuh ketika kepala kerbau dilemparkan dari tengah bendungan ke area gerojokan air.

Momen itu menjadi bagian yang paling dinanti warga. Sejumlah pemuda yang telah bersiap di bawah bendungan langsung menceburkan diri demi memperebutkan kepala kerbau yang hanyut bersama derasnya air.

Salah seorang peserta, Zidan, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi tersebut. Ia mengatakan suasana rebutan kepala kerbau berlangsung seru sekaligus menegangkan.

“Agak susah, ini baru pertama kali. Tadi itu tempatnya lumayan dalam,” ujar Zidan.

Kepala kerbau yang berhasil didapat rencananya akan dibagi bersama rekan satu timnya untuk kemudian dimasak dan disantap bersama.

Menurut Mochamad Nur Arifin, tradisi larung kepala kerbau bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol rasa syukur sekaligus doa agar keberadaan Dam Bagong terus membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya para petani.

“Para petani yang pengairannya teraliri dari Dam Bagong ini bisa diberikan kelancaran, rezekinya lumintu, airnya ada terus,” kata Arifin.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi larung kepala kerbau tetap menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya mempertahankan nilai budaya dan sejarah lokal, ritual ini juga berkembang menjadi wisata budaya yang selalu dinanti masyarakat maupun pengunjung dari luar daerah. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow