Dispangtan Kota Batu Tak Anggarkan Penanganan PMK, Andalkan BTT untuk Vaksinasi
Meski jumlah kasus PMK di Kota Batu masih relatif kecil, pihak Dispangtan tetap siaga untuk mencegah penyebaran lebih luas.
KOTA BATU, SJP - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Batu mengakui adanya kelengahan dalam mengantisipasi merebaknya kembali wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak.
Kepala Dispangtan Kota Batu Heru Yulianto pada Senin (13/1/2025) mengatakan, meski jumlah kasus PMK di Kota Batu masih relatif kecil, pihak Dispangtan tetap siaga untuk mencegah penyebaran lebih luas.
"Kami memeriksa ternak yang terkonfirmasi positif PMK, memisahkannya, dan memberikan perawatan. Namun, memang ada kelemahan dalam upaya antisipasi awal," ujarnya.
Sementara itu, sebagian besar ternak yang terpapar PMK berasal dari luar Kota Batu dan belum divaksinasi. Dan landasan utama agar terhindar dari PMK adalah vaksinasi, karena juga dapat mencegah penyebaran wabah.
Heru juga mengungkapkan, pengadaan vaksin dan obat-obatan kini hanya bisa mengandalkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) karena sejak Februari 2024 lalu, penganggaran vaksinasi tidak lagi ditanggung oleh APBN.
"Namun alokasi BTT untuk tahun 2025 turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, dari Rp 35,1 miliar menjadi Rp 23,4 miliar dan kita akan memaksimalkan BTT yang ada untuk pengadaan vaksin dan penanganan wabah ini," imbuhnya.
Heru memastikan pihaknya tidak akan meremehkan situasi ini, mengingat dampak besar wabah PMK yang pernah terjadi pada 2022. Ia menegaskan telah belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga prioritas Dispangtan untuk memastikan wabah tidak meluas seperti sebelumnya.
Sementara itu, Asnawi salah seorang peternak sapi di Desa Beji mengakui, salah satu peliharaan miliknya adalah salah satu sapi yang berhasil sembuh dari gejala PMK.
"Yang pasti memang harus diisolasi terlebih dahulu, lalu resep dari orang tua saya dulu untuk diberikan beberapa rempah seperti jahe, daun meniran, dan bawang putih untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

