Biaya Produksi Naik 20 Persen, Perajin Jimbe Blitar Bertahan di Tengah Tekanan Kurs
Perajin jimbe di Blitar menghadapi kenaikan biaya produksi hingga 20 persen akibat pelemahan rupiah. Meski demikian, pelaku usaha tetap bertahan dengan menjaga pasar ekspor dan domestik.
BLITAR, SJP – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak langsung pada pelaku usaha kerajinan alat musik tradisional di daerah. Kondisi ini dirasakan oleh Muhamad Yefri Firmansyah, perajin gendang jimbe dan perlengkapan hadroh di Jalan Antasari, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Yefri menjelaskan, kenaikan kurs dolar membuat biaya produksi meningkat signifikan, terutama karena sebagian bahan baku masih bergantung pada impor seperti besi dan plastik.
“Perajin kan ada bahan baku yang impor seperti besi dan plastik, itu berpengaruh atas melemahnya rupiah ini,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, lonjakan biaya produksi mencapai sekitar 20%. Meski demikian, pihaknya tidak langsung menaikkan harga jual secara sepihak, melainkan melakukan komunikasi dengan para pembeli, khususnya untuk pasar ekspor.
“Sementara kalau untuk jual, khususnya ekspor, kita melakukan komunikasi dengan buyer. Kita jelaskan adanya kenaikan, jadi kita ambil kesepakatan harga dengan buyer,” jelasnya.
Di tengah tekanan biaya tersebut, volume ekspor produk kerajinannya masih relatif stabil. Produk yang dihasilkan telah menembus pasar internasional di Asia hingga Amerika, seperti Malaysia, China, Singapura, dan Amerika Serikat.
Jenis produk yang dipasarkan meliputi gendang jimbe, tifa, dan rebana. Dalam satu periode, kapasitas ekspor berkisar 200 hingga 300 unit untuk dua hingga tiga pembeli, tergantung permintaan.
Untuk pasar domestik, produksi justru lebih tinggi. Yefri mampu memproduksi sekitar 3.000 unit per bulan, mencakup berbagai produk seperti kendang, jimbe, rebana, perlengkapan hadroh, hingga ketipung.
“Kita tetap berusaha menjaga pelanggan, jadi penyesuaian harga juga dikomunikasikan agar pelanggan tidak pindah,” tambahnya.
Harga produk yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 15.000 hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan kualitas barang.
Di tengah tantangan ekonomi global, para perajin di Blitar terus berupaya mempertahankan usaha dengan menjaga kualitas produk serta memperkuat hubungan dengan pasar, baik domestik maupun internasional.
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

