Siswa SMP di Baron Nganjuk Diduga Alami Insiden Misterius, Patah Tulang dan Dirawat di RSUD Kertosono
Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) asal Kecamatan Baron terpaksa dilarikan ke RSUD Kertosono guna mendapatkan perawatan medis serius.
NGANJUK, SJP - Dunia pendidikan di wilayah Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk mendadak gempar. Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) asal Kecamatan Baron terpaksa dilarikan ke RSUD Kertosono guna mendapatkan perawatan medis serius.
MSF(15), salah satu siswa di sebuah sekolah negeri setingkat SMP di wilayah Kecamatan Baron diduga menjadi korban peristiwa misterius hingga mengalami patah tulang pada bagian paha kaki kanannya dan baru saja menjalani operasi, hingga kini masih dalam perawatan di RSD Kertosono
Berdasarkan informasi di lokasi, korban nampak terbaring lemah di ruang perawatan dengan pengawasan ketat dari tim medis.
Kabar mengenai kondisi siswa tersebut masih menjalani perawatan intensif di ruang rawat inap Bougenville nomor 5 di lantai 3 pun dengan cepat menyebar ke masyarakat, memicu rasa prihatin sekaligus tanda tanya besar mengenai kronologi kejadian yang menimpanya.
ZA, orang tua korban tampak setia mendampingi putra mereka. Raut wajah cemas dan sedih tak dapat disembunyikan yang terus memantau perkembangan kondisi kesehatan anaknya. Meski kondisi korban dilaporkan mulai mendapatkan penanganan stabil, pihak keluarga masih enggan memberikan keterangan rinci mengenai detail peristiwa yang terjadi. Mereka saat ini lebih fokus pada proses pemulihan trauma dan fisik sang buah hati.
"Kami sangat terpukul dengan kejadian ini. Saat ini kami serahkan sepenuhnya proses perawatan kepada pihak rumah sakit, dan berharap putra kami segera pulih seperti sedia kala," ungkapnya dengan nada lirih. Kamis (30/4/2026).
Menurut ZA, sampai saat ini belum tahu persis penyebab dan motif di balik kejadian yang menimpa anak bungsunya.
”Saya masih syok. Pihak sekolah sampai sekarang masih belum memberikan keterangan apapun terkait peristiwa itu,” ungkapnya.
Orang tua korban menceritakan, awal peristiwanya pada Sabtu siang (25/4/2026) saat posisi anaknya masih ada di sekolah untuk persiapan pulang. Biasanya sekitar jam 13.00 WIB, anaknya sudah sampai di rumah. Tapi hari itu lebih dari pukul 13.00 WIB masih belum pulang.
”Waktu itu saya langsung meluncur ke sekolah. Saat di sekolah, anak saya ditandu teman-temanya karena kakinya tidak bisa berjalan,” urai ZA.
Tidak sampai di situ, ZA mengatakan, melihat kondisi anaknya seperti itu kenapa pihak sekolah tidak melakukan pertolongan sementara.
”Kok aneh, padahal di depan sekolah persis ada tempat pelayanan kesehatan berupa klinik. Di situ juga ada layanan UGD 24 jam,” bebernya dengan kesal.
Sementara itu, aktivis perlindungan perempuan dan anak, Tanty Niswatin menyatakan sikap tegas dan melakukan pendampingan langsung ke pihak sekolah untuk mencari titik terang penyebab insiden tersebut.
Kata Tanty, kKetidakjelasan informasi mengenai penyebab siswa tersebut sampai harus dievakuasi dan menjalani perawatan intensif, memicu kekhawatiran adanya celah dalam sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
"Kami akan segera turun ke sekolah yang bersangkutan. Anak ini ditandu tanpa sebab yang jelas, ini yang harus kita bedah. Apakah ada intimidasi, perundungan, atau faktor kesehatan yang terabaikan? Kami hadir untuk memastikan hak-hak anak ini terlindungi dan ada klarifikasi transparan dari pihak sekolah," ujarnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

