Sederet Warisan Prestasi dan Loyalitas Abadi Kuncoro untuk Sepak Bola Indonesia

Lahir di Malang pada 7 Maret 1973, Kuncoro bukan sekadar pemain, ia adalah representasi hidup dari filosofi Singo Edan.

19 Jan 2026 - 08:00
Sederet Warisan Prestasi dan Loyalitas Abadi Kuncoro untuk Sepak Bola Indonesia
Petugas medis memberikan pertolongan darurat kepada legenda Arema FC Kuncoro yang jatuh tak sadarkan diri di sisi lapangan Stadion Gajayana saat laga amal berlangsung. (Foto : Istimewa)

KOTA MALANG, SJP – Dunia sepak bola nasional kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kuncoro, sosok legenda yang identik dengan karakter keras dan loyalitas tanpa batas, mengembuskan napas terakhir pada Minggu (18/1/2026). 

Ia wafat setelah sempat tidak sadarkan diri dalam laga amal peringatan 100 Tahun Stadion Gajayana, sebuah panggung yang ironisnya menjadi saksi bisu pengabdian terakhir sang legenda di atas rumput hijau.

Lahir di Malang pada 7 Maret 1973, Kuncoro bukan sekadar pemain, ia adalah representasi hidup dari filosofi Singo Edan. 

Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai pemain bertahan dengan determinasi tinggi yang sulit ditembus lawan. Rekam jejak prestasinya di kancah nasional menjadi bukti kapasitasnya sebagai pemain elite. 

Pertama adalah Pilar Timnas Indonesia, di era 1990-an, Kuncoro menjadi andalan skuat Garuda, membuktikan kualitasnya di level internasional dan membawa nama baik bangsa.

Perestasi kedua, adalah Kolektor Gelar di Klub Raksasa, tak hanya berjaya di Malang, ia tercatat pernah memperkuat dan memberikan kontribusi signifikan bagi klub-klub besar tanah air seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, hingga Persik Kediri.

Ketiga adalah Ikon Loyalitas Arema FC, setelah gantung sepatu, pengabdiannya tidak luntur. Sejak 2012, ia mendedikasikan dirinya di jajaran kepelatihan Arema FC, melintasi berbagai pergantian pelatih kepala sebagai asisten pelatih yang sangat disegani.

Prestasi Kuncoro tidak hanya terukir saat ia masih aktif berlari. Sebagai asisten pelatih, ia dikenal sebagai penyelamat di masa-masa sulit. 

Berkali-kali ia mengemban amanah sebagai caretaker atau pelatih sementara saat Arema FC berada dalam kondisi transisi kepemimpinan. 

Ketegasan dan kemampuannya menjaga harmoni ruang ganti menjadikannya figur guru bagi para pemain muda.

"Beliau adalah pilar dan teladan. Dedikasi Kuncoro melampaui tugas taktis di lapangan; ia adalah penjaga jiwa klub ini," tulis manajemen Arema FC dalam pernyataan resminya.

Kejadian memilukan ini bermula saat almarhum turun bermain dalam pertandingan trofeo amal. 

Setelah tampil impresif di babak pertama, ia beristirahat di bangku cadangan sebelum akhirnya jatuh pingsan akibat serangan jantung mendadak. 

Meski tim medis telah melakukan upaya maksimal melalui CPR dan evakuasi ke RS Saiful Anwar (RSSA), nyawa sang legenda tidak tertolong.

Kepergian Kuncoro meninggalkan duka kolektif yang mendalam bagi insan sepak bola Indonesia. Ia pergi meninggalkan warisan berupa integritas, kedisiplinan, dan loyalitas yang akan selalu menjadi standar bagi generasi penerus sepak bola di Bumi Arema dan Indonesia. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow