Pemulihan Grahadi Dimulai, Rp12,76 Miliar Digelontorkan, Target Rampung Oktober 2026
Pengerjaan dimulai pada 30 Maret 2026 dan ditargetkan selesai pada 25 Oktober 2026. Dengan durasi sekitar tujuh bulan, proyek tersebut membutuhkan kompleksitas tinggi dalam proses pemugaran, terutama karena harus mempertahankan nilai historis bangunan.
SURABAYA, SJP — Setelah sempat terbakar akibat aksi pelemparan bom molotov dalam kerusuhan pada Agustus 2025 lalu, kini Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memulai proses pemulihan sayap barat bangunan bersejarah tersebut dengan anggaran mencapai Rp12,76 miliar dan target rampung pada Oktober 2026.
Gedung Negara Grahadi merupakan rumah dinas Gubernur Jawa Timur sekaligus salah satu bangunan cagar budaya penting di Kota Surabaya. Berdiri sejak tahun 1810, gedung ini kerap digunakan untuk kegiatan resmi pemerintahan dan kenegaraan.
Namun pada akhir Agustus 2025, bagian sayap barat bangunan itu mengalami kerusakan akibat kebakaran yang dipicu oleh lemparan bom molotov saat aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Peristiwa tersebut menimbulkan kerusakan signifikan pada sejumlah bagian bangunan, terutama struktur dan ruang di sisi barat.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengalokasikan anggaran sebesar Rp12.763.527.600 yang bersumber dari APBD untuk memulihkan bangunan tersebut. Proyek ini direncanakan berlangsung selama 210 hari kalender.
Pengerjaan dimulai pada 30 Maret 2026 dan ditargetkan selesai pada 25 Oktober 2026. Dengan durasi sekitar tujuh bulan, proyek tersebut membutuhkan kompleksitas tinggi dalam proses pemugaran, terutama karena harus mempertahankan nilai historis bangunan.
Menjaga Keaslian Bangunan Cagar Budaya
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa pemulihan dilakukan dengan prinsip menjaga keaslian bangunan sebagai cagar budaya.
“Kita ingin memastikan semaksimal mungkin ini mirip dengan aslinya. Kita memaksimalkan keserupaan dan kemiripan dengan bangunan aslinya. Meskipun tentu tidak bisa persis seperti aslinya,” ujar Khofifah, Kamis (2/4/2026).
Ia menyebut, proses pemugaran dilakukan berdasarkan koordinasi dengan Tim Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya agar setiap detail tetap sesuai dengan kaidah pelestarian.
Tahap awal pemulihan dimulai dengan identifikasi material bangunan yang tersisa dari kebakaran, seperti batu bata dan genteng. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hasil rekonstruksi mendekati bentuk asli bangunan.
“Proses ini sudah diidentifikasi dan dikawal oleh tim dari cagar budaya dan banyak elemen lainnya. Betapa identifikasi dan detail proses tadi tidak sederhana,” tuturnya.
Lingkup pekerjaan pemugaran meliputi berbagai aspek, mulai dari rekonstruksi atap hingga penataan ulang ruang yang terdampak kebakaran.
Selain itu, sejumlah elemen arsitektur seperti engsel, kusen, dan pintu akan direplikasi agar menyerupai bentuk aslinya. Hasil ekskavasi arkeologi dan balok kayu lama juga akan diekspos sebagai bagian dari nilai sejarah bangunan.
Dalam proses pemugaran, digunakan material khusus yang sebagian harus didatangkan dari luar negeri. Material ini memiliki karakteristik tertentu agar tidak merusak struktur lama.
“Jadi bangunan ini dibangun tanpa semen. Kapur yang digunakan itu sekaligus sebagai perekat. Dan ada beberapa konstruksi dan bagian-bagian lama yang existing, seperti kusen yang ada di sini, tidak akan dirombak,” jelasnya.
Penguatan Struktur dan Sistem Keamanan
Meski mengedepankan keaslian, pemulihan juga disertai penguatan struktur. Salah satunya melalui penambahan ring balok untuk memperkuat hubungan antara atap dan dinding. Selain itu, sistem proteksi kebakaran akan dipasang sebagai langkah mitigasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Pemulihan juga mencakup ekskavasi lantai asli bangunan yang diketahui mengalami peningkatan elevasi sekitar 50 sentimeter sejak awal berdiri. Rencananya, lantai asli tersebut akan diekspos menggunakan kaca sehingga dapat menjadi sarana edukasi mengenai sejarah dan teknologi konstruksi masa lalu.
Pemerintah menegaskan bahwa proyek kali ini difokuskan pada pemulihan bangunan sayap barat yang terdampak kebakaran, bukan keseluruhan kompleks Grahadi.
“Gedung-gedung yang terdampak ini adalah gedung-gedung yang harus kita lestarikan. Ini yang kita pulihkan adalah bangunan sayap barat Grahadi, bukan keseluruhan Grahadi,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

