Maestro Seni Banyuwangi Berkumpul Bahas Tantangan Pelestarian Budaya Lokal

20 Nov 2023 - 17:30
Maestro Seni Banyuwangi Berkumpul Bahas Tantangan Pelestarian Budaya Lokal
Para maestro seni di Banyuwangi berdiskusi tantangan pelestarian budaya Banyuwangi yang berlangsung di Aula Untag Banyuwangi, Senin (20/11/2023)

Kabupaten Banyuwangi, SJP - Kabupaten Banyuwangi daerah yang dikenal sebagai kawasan multikultural. Dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku, etnis bahkan agama yang beragam. 

Percampuran antar keberagaman itu membuat daerah yang karib disebut Bumi Blambangan ini menjadi kian unik dan menarik. Keunikan itu terwujud dalam budaya dan keseniannya yang terakulturasi secara kreatif. 

Melalui agenda Galang Gerak Budaya Tapal Kuda (GGBTK) yang diselenggarakan Kemendikbud Ristek, berbagai kesenian dan budaya Banyuwangi turut dibedah. 

Seperti halnya dalam agenda diskusi yang berlangsung di Aula Untag Banyuwangi, Senin (20/11/2023). Berbagai tokoh kebudayaan dihadirkan sebagai narasumber. 

Sebut aja Maestro Gandrung Temu Misti, Maestro Janger Sugiyo, Tokoh Adat Keboan Aliyan Bambang dan Pelestari Kitab Kuno Lontar Yusup, Wiwin Indarti. 

Dalam agenda diskusi itu persoalan dan tantangan pelestarian budaya di Banyuwangi dibedah satu per satu. 

Ketua Pelaksana Galang Gerak Budaya Tapal Kuda di Banyuwangi, Dedy Wahyu Hernanda mengatakan GGBTK merupakan ajang untuk menggali nilai-nilai dan spirit di daerah Tapal Kuda. Utamanya tentang Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). 

"Tujuan dari kegiatan ini yakni mengangkat kembali ragam budaya yang lahir dari proses sosiohistoris masyarakat di kawasan Tapal Kuda," kata Dedy. 

Dedy menyebut Banyuwangi memiliki 7 WBTB yang sudah ditetapkan Kemendikbud, diantaranya Gandrung, Janger, Keboan Aliyan, Mocoan Lontar, Tumpeng Sewu, Seblang dan Rengganis.

Oleh karenanya, 7 WBTB itu menjadi topik yang disajikan dalam GGBTK di Bumi Blambangan yang dimulai sejak tanggal 17 November lalu.

"Kegiatan ini sekaligus memberi ruang untuk maestro dan aktualisasi seni budaya yang telah ditetapkan sebagai WBTB. Mengenalkan kepada generasi muda di berbagai elemen. Dengan harapan bisa membangun kesadaran dari semua sektor," jelasnya.

Melalui GGBTK, ia berharap potensi yang dimiliki Banyuwangi bisa menjadi embrio dapat memperkokoh persatuan dari semua perbedaan dan keanekaragaman di Banyuwangi. 

"Tantangan dari mempertahankan kebudayaan salah satunya adalah sistem kaderisasi. Oleh sebabnya dengan kegiatan semacam ini diharapkan mampu memupuk kecintaan anak terhadap budaya di daerahnya," tegasnya. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow